Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) otonom di lingkungan perusahaan dinilai memunculkan risiko keamanan siber dan tantangan tata kelola baru yang belum sepenuhnya diantisipasi oleh sistem keamanan konvensional. Laporan terbaru Zentara Labs menyoroti adanya kesenjangan antara percepatan adopsi teknologi AI dan kesiapan perusahaan dalam mengelola risikonya.
Co-Founder dan CEO Zentara, Regal Rauniyar Star, menyatakan teknologi AI kini beroperasi dengan tingkat independensi yang belum diperhitungkan dalam pendekatan keamanan tradisional. Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan jarak antara cara sistem AI bekerja dan kemampuan perusahaan untuk memantau serta mengelola risiko yang muncul. Pernyataan itu disampaikan dalam siaran pers pada Senin (18/5/2026).
Laporan tersebut mencatat pemanfaatan AI untuk meningkatkan efisiensi dan otomatisasi proses kerja terus meningkat. Namun, banyak organisasi dinilai belum memiliki kerangka perlindungan dan tata kelola yang memadai untuk mengelola potensi risiko secara efektif.
President Zentara, Darian Kuswanto, menekankan perlunya perusahaan mengalihkan fokus dari sekadar mengejar kemampuan teknologi menuju penguatan tata kelola penggunaan AI. Ia menilai pembangunan pemahaman tata kelola AI sejak dini menjadi langkah penting, tidak hanya untuk mengelola risiko, tetapi juga menjaga kepercayaan publik.
Dalam laporan itu, adopsi AI disebut berlangsung cepat di berbagai sektor, termasuk keuangan, layanan pelanggan, hingga layanan publik, sementara ancaman keamanan siber tetap meningkat. Tingginya anomali lalu lintas digital, upaya serangan siber, serta kasus kebocoran data dalam beberapa tahun terakhir dinilai menunjukkan tantangan keamanan belum mereda.
Para pakar keamanan juga mengamati meningkatnya penggunaan AI untuk mengotomatisasi serangan siber, sehingga serangan dapat berlangsung lebih cepat dan lebih sulit dideteksi. Situasi ini memunculkan tantangan baru terkait kemampuan perusahaan mempertahankan kontrol terhadap sistem digital yang beroperasi secara mandiri.
Selain aspek keamanan, laporan Zentara Labs turut menyoroti tantangan tata kelola yang lebih luas, termasuk risiko penyalahgunaan AI untuk memproduksi konten berbahaya atau menyesatkan. Kondisi tersebut mendorong meningkatnya perhatian regulator dan publik terhadap kebutuhan pengawasan yang lebih jelas seiring percepatan adopsi teknologi.
Secara global, sejumlah insiden siber berbasis AI serta munculnya panduan keamanan baru dari berbagai lembaga industri menunjukkan risiko teknologi ini mulai dipandang serius. Namun, laporan itu menilai implementasi praktik keamanan dan tata kelola di tingkat perusahaan masih belum merata.
Di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, laju adopsi AI disebut melampaui perkembangan praktik tata kelola dan keamanan, sehingga memunculkan kesenjangan implementasi atau deployment gap. Laporan tersebut menekankan pentingnya definisi akses sistem yang jelas, peningkatan pemantauan aktivitas berbasis AI, pembatasan tindakan berisiko tinggi, serta penetapan akuntabilitas dalam penggunaan teknologi AI.