Bagi pengguna yang pernah mencoba berbagai chatbot kecerdasan buatan (AI) populer, Claude kerap terasa berbeda saat diajak berbicara. Ketika seseorang menceritakan keluh kesah, masalah pekerjaan, atau hari yang buruk, chatbot buatan Anthropic ini sering merespons dengan kalimat yang terdengar hangat dan manusiawi, misalnya, “That sounds really hard” (Itu kedengarannya sangat berat ya).
Balasan seperti itu dinilai tidak sekadar template kaku, melainkan menyerupai empati dari teman yang mendengarkan. Kemampuan Claude untuk merespons emosi dengan cara yang dianggap penuh pengertian membuatnya kerap dipuji sebagai AI yang “paling memanusiakan” penggunanya.
Pertanyaannya kemudian, dari mana sebuah sistem yang dibangun dari miliaran parameter dan kode komputer bisa “belajar” soal empati? Di balik kepribadian Claude, terdapat peran seorang filsuf perempuan asal Skotlandia, Amanda Askell.
Di lingkungan Silicon Valley yang sering diasosiasikan dengan dominasi para insinyur komputer, Askell disebut sebagai sosok yang tidak lazim. Ia menjabat sebagai Kepala Tim Penyelarasan Kepribadian (Personality Alignment) di Anthropic. Alih-alih berfokus pada kecepatan server atau perancangan perangkat keras, tugas utamanya adalah menanamkan kompas moral dan mendefinisikan kepribadian Claude.
Askell tumbuh di Prestwick, Skotlandia, dan dibesarkan oleh ibunya yang berprofesi sebagai guru. Ketertarikannya pada pertanyaan tentang eksistensi dan moralitas muncul sejak kecil, berawal dari kebiasaannya membaca karya-karya epik J.R.R. Tolkien dan C.S. Lewis.
Jejak pendidikannya pun jauh dari kesan dunia pemrograman. Askell mempelajari seni rupa dan filsafat secara bersamaan di University of Dundee, tempat ia terbiasa melukis sekaligus merenungkan pertanyaan-pertanyaan tentang makna kehidupan. Ia kemudian melanjutkan studi ke University of Oxford untuk meraih gelar BPhil, sebelum mencapai puncak akademiknya di New York University (NYU) dengan gelar PhD.
Di NYU, Askell menulis tesis tentang salah satu bidang filsafat yang rumit, yaitu etika tak terbatas (infinite ethics). Ia mengkaji cara kerja moralitas ketika diterapkan pada populasi berskala tidak terhingga. Berbekal filsafat moral dan kemampuannya merangkul ambiguitas, Askell kemudian melangkah ke ranah kecerdasan buatan—dan menjadi salah satu figur penting di balik penyelarasan kepribadian Claude.