PT Telemedia Komunikasi Pratama, anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk (IDX: WIFI) atau Surge, menyatakan telah merampungkan seluruh rangkaian Uji Laik Operasi (ULO) untuk layanan Fixed Wireless Access (FWA) “IRA – Internet Rakyat” berbasis pita frekuensi 1,4 GHz di enam zona operasional di Indonesia.
Dengan selesainya ULO, perusahaan menyebut siap mempersiapkan grand launching layanan “IRA – Internet Rakyat” secara serentak, sekaligus memperkuat implementasi komersial secara bertahap di seluruh wilayah operasional.
Enam zona operasional yang dimaksud mencakup Zona 4 (Provinsi Banten, Provinsi Daerah Khusus Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi), Zona 5 (Provinsi Jawa Barat, kecuali wilayah yang masuk Zona 4), Zona 6 (Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta), Zona 7 (Provinsi Jawa Timur), Zona 9 (Provinsi Papua, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya), serta Zona 10 (Provinsi Maluku dan Maluku Utara). Rujukan wilayah ini tercantum dalam dokumen Izin Pita Frekuensi Radio Nomor 055/IPFR/KOMDIGI/DJID/12/2025.
Penyelesaian ULO terakhir dilakukan di Zona 9 Papua pada 7–8 Mei 2026 dan Zona 10 Maluku pada 11–12 Mei 2026. Perusahaan menyatakan pengujian di kedua zona tersebut menandai tuntasnya proses uji operasional pada seluruh zona dengan hasil yang baik.
Berdasarkan hasil pengujian menggunakan perangkat laptop maupun ponsel di berbagai titik, perusahaan menyebut layanan “IRA – Internet Rakyat” secara konsisten melampaui standar minimum kecepatan unduh yang ditetapkan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (KOMDIGI), dengan kecepatan hingga 100 Mbps pada titik pengujian tertentu. Selain itu, hasil uji juga disebut menunjukkan koneksi yang stabil, latency yang baik, serta kemampuan multi-device untuk mendukung kebutuhan digital rumah tangga, pendidikan, usaha kecil, dan produktivitas masyarakat.
Perusahaan menilai keberhasilan ULO di Papua dan Maluku menjadi indikator kesiapan teknologi FWA berbasis pita frekuensi 1,4 GHz untuk diterapkan di berbagai kondisi geografis Indonesia, termasuk wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur fixed broadband berbasis kabel. Menurut perusahaan, hal ini sejalan dengan komitmen untuk mendorong kesetaraan digital melalui akses internet yang cepat, andal, dan terjangkau, termasuk di Indonesia bagian timur.
PT Telemedia Komunikasi Pratama juga menyatakan telah menyiapkan aspek operasional utama untuk mendukung peluncuran dan perluasan layanan, meliputi kesiapan jaringan, perangkat pelanggan, rantai pasok deployment, sistem aktivasi pelanggan, serta dukungan komersial agar rollout berjalan bertahap, terukur, dan berkelanjutan.
Hingga saat ini, perusahaan menyebut telah mengoperasikan lebih dari 1.500 Base Transceiver Station (BTS) Radio Unit yang sudah on-air dan mencakup lebih dari 80 kota/kabupaten di wilayah operasional. Capaian tersebut disebut menjadi fondasi untuk grand launching dan perluasan layanan komersial secara bertahap.
Perusahaan menilai implementasi FWA berbasis pita frekuensi 1,4 GHz memiliki potensi untuk pengembangan fixed broadband nirkabel karena penetrasi sinyal indoor yang kuat, cakupan jaringan luas, kualitas koneksi stabil, serta efisiensi pembangunan jaringan.
Direktur Utama PT Telemedia Komunikasi Pratama sekaligus Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk, Shannedy Ong, mengatakan penyelesaian ULO di enam zona merupakan tonggak penting bagi perusahaan. “Dengan kesiapan operasional yang telah tervalidasi, kami semakin mantap untuk mempersiapkan grand launching layanan ‘IRA – Internet Rakyat’ secara serentak dan mendukung implementasi komersial secara bertahap di seluruh wilayah operasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (20/5/2026). Ia menambahkan, “Melalui layanan ini, kami ingin memastikan masyarakat di Jawa, Papua, dan Maluku dapat menikmati akses internet yang cepat, andal, dan terjangkau secara lebih setara.”