Seiring pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud), dan transformasi digital, fokus perusahaan dinilai tidak lagi cukup berhenti pada inovasi. Organisasi kini dituntut memperkuat kepercayaan digital (digital trust) melalui tata kelola dan akuntabilitas yang lebih solid, di tengah risiko yang kian kompleks dan saling terkait.
Dalam lanskap digital saat ini, perusahaan tidak hanya perlu bergerak cepat, tetapi juga mampu mengelola risiko yang terintegrasi antara teknologi, keamanan siber, dan perlindungan data. Di Indonesia, urgensi tersebut terlihat dari catatan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat lebih dari 3,6 miliar anomali serangan siber pada 2025. Angka ini menunjukkan ancaman siber dinilai tidak lagi sporadis, melainkan masif dan berkelanjutan.
Di saat bersamaan, implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) mempertegas bahwa perlindungan data tidak lagi sekadar isu kepatuhan. Aspek ini telah menjadi prioritas yang berdampak pada ranah hukum, finansial, dan reputasi perusahaan.
Merespons dinamika tersebut, BDO di Indonesia memperkuat kapabilitas layanan IT Advisory dengan menunjuk Erikman Pardamean sebagai IT Advisory Partner. BDO menyebut Erikman memiliki pengalaman membantu organisasi menghadapi tantangan teknologi, khususnya di area IT GRC, cybersecurity, privacy, dan AI governance, serta telah mendukung berbagai organisasi lintas sektor, termasuk sektor keuangan, BUMN, dan industri digital.
Erikman menilai perkembangan teknologi seperti AI turut membawa tantangan baru yang perlu diantisipasi secara menyeluruh. Ia menyebut percepatan adopsi AI membuka peluang besar bagi bisnis, namun juga menghadirkan risiko baru, seperti potensi penyalahgunaan data, bias algoritma, hingga kurangnya transparansi.
Menurut Erikman, tantangan terbesar organisasi saat ini bukan hanya kompleksitas teknologi, melainkan bagaimana mengelola keterkaitan antara AI, keamanan siber, dan perlindungan data secara terpadu. Ia menilai dalam banyak kasus ketiga aspek tersebut masih dikelola terpisah, sehingga dapat menciptakan celah risiko yang berpotensi dimanfaatkan pelaku serangan siber.
Associate Director IT & Digital BDO di Indonesia, Reza Aminy, menekankan pentingnya kesadaran (awareness) dari seluruh pihak yang terlibat dalam AI, keamanan siber, dan perlindungan data. Ia menyatakan pemahaman komprehensif dari seluruh pemangku kepentingan diperlukan untuk membangun sinergi yang kuat.
Reza menambahkan, kesadaran yang terintegrasi dapat membantu organisasi memitigasi risiko baru yang dibawa AI, seperti potensi penyalahgunaan data dan bias algoritma, sekaligus memastikan kepatuhan regulasi, menjaga reputasi bisnis, dan membangun fondasi digital trust yang berkelanjutan di mata publik.
Sementara itu, Johanna Gani, salah satu leader BDO di Indonesia, menilai membangun kepercayaan digital membutuhkan pendekatan yang lebih luas dibanding sekadar investasi teknologi. Menurutnya, organisasi perlu memastikan tata kelola, budaya, dan pengambilan keputusan berkembang seiring percepatan inovasi.
Johanna menekankan bahwa kepercayaan menjadi aset yang sama pentingnya dengan inovasi. Ia menilai AI, keamanan siber, dan perlindungan data perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan hanya fungsi teknis atau kepatuhan. Ketika ketiganya berjalan selaras, organisasi dinilai lebih siap menghadapi risiko dan membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan, investor, regulator, serta pemangku kepentingan lainnya.
BDO menilai sinergi antara AI, cybersecurity, dan perlindungan data kini menjadi kunci untuk membangun kepercayaan digital yang berkelanjutan. Pendekatan terintegrasi disebut tidak hanya mengurangi risiko, tetapi juga meningkatkan kesiapan menghadapi dinamika regulasi, ekspektasi pemangku kepentingan, serta laju perkembangan teknologi. Tanpa sinergi yang kuat, upaya inovasi dinilai berpotensi memperbesar eksposur risiko yang dapat berdampak pada keberlangsungan bisnis dan reputasi perusahaan.
Erikman menegaskan, tantangan ke depan bukan lagi semata bagaimana mengadopsi teknologi, melainkan memastikan setiap inovasi berjalan seiring dengan kepercayaan. Ia menilai AI, cybersecurity, dan perlindungan data tidak bisa lagi dipandang sebagai tiga fungsi terpisah, melainkan satu fondasi yang saling terkait dalam membangun digital trust.
Melalui penguatan kapabilitas IT Advisory, BDO di Indonesia menyatakan komitmennya untuk mendukung organisasi membangun fondasi digital trust yang kuat melalui pendekatan yang mengintegrasikan inovasi, keamanan, dan tata kelola secara berkelanjutan.