Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menggelar BRIN Goes to Industry 4 di Kantor BRIN, Jakarta, Selasa (19/5/2026). Kegiatan ini menitikberatkan upaya pelestarian kekayaan budaya Indonesia melalui pendekatan sains, sekaligus memaparkan sejumlah hasil riset BRIN di berbagai bidang.
Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian mengatakan agenda tersebut menampilkan temuan riset pada sektor-sektor strategis, antara lain kebudayaan, ekonomi kreatif, kuliner, kesehatan, hingga industri pariwisata. Menurutnya, forum ini juga menjadi ruang untuk memperkuat keterhubungan antara riset dan kebutuhan di lapangan.
Amarulla menjelaskan, penyelenggaraan BRIN Goes to Industry 4 didasarkan pada tiga pilar utama untuk memperkuat ekosistem riset di Indonesia. Tiga tujuan itu meliputi penyebarluasan hasil riset dan inovasi agar lebih dikenal masyarakat, memperoleh masukan dari sektor industri untuk meningkatkan kualitas riset ke depan, serta memantik ide-ide baru bagi peneliti dalam mengembangkan temuan berikutnya.
Melalui kegiatan ini, BRIN menekankan pentingnya agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium. Pemanfaatan riset, termasuk pemahaman terkait hak cipta, disebut menjadi salah satu aspek krusial yang perlu dipahami publik.
Dalam pemaparannya, Amarulla juga menyebut riset terbaru memberikan bukti mengenai keagungan peradaban di Nusantara. Ia menilai temuan artefak di Indonesia menunjukkan bahwa sejarah dan capaian budaya bangsa dapat disejajarkan dengan peradaban besar dunia, seperti Mesopotamia dan Mesir Kuno, Yunani dan Romawi, serta China.
Menurut Amarulla, kesadaran atas sejarah tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas nasional dan mendorong masyarakat untuk terus maju tanpa meninggalkan akar budaya. Ia menilai kebanggaan terhadap jati diri bangsa dapat menjadi pendorong menuju Indonesia yang lebih modern.
Salah satu sorotan dalam acara itu adalah pengumuman pengakuan internasional atas lukisan stensil tangan di Gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Karya seni purbakala tersebut mendapat pengakuan Guinness World Records sebagai “oldest painting-non-figurative art” atau lukisan non-figuratif tertua di dunia.
BRIN menilai pencapaian ini menjadi bukti kekayaan sejarah Indonesia yang bernilai bagi ilmu pengetahuan global, sekaligus diharapkan meningkatkan literasi publik tentang pentingnya dukungan terhadap riset arkeologi dan pelestarian budaya lokal.