Tahun 2026 diwarnai gelombang peluncuran produk teknologi yang memicu perdebatan di kalangan warganet. Alih-alih menjawab kebutuhan nyata dalam aktivitas sehari-hari, sejumlah produsen justru dinilai memaksakan kecerdasan buatan (AI) masuk ke perangkat rumah tangga yang pada dasarnya sudah berfungsi baik tanpa bantuan algoritma.
Fenomena “slap AI on everything” ikut melahirkan berbagai gadget berharga tinggi dengan manfaat yang dipertanyakan. Berikut sejumlah perangkat yang disebut-sebut paling absurd sepanjang 2026, berdasarkan rangkuman Mashable Indonesia dari berbagai sumber.
1. Musical Lollipop (permen elektronik sekali pakai)
Produk ini menggabungkan camilan lolipop dengan teknologi bone conduction yang mengirim getaran suara musik lewat rahang saat dikonsumsi. Namun, konsep tersebut menuai kritik karena perangkatnya bersifat sekali pakai. Ketika permen habis dalam hitungan menit, komponen pemutar musik pun ikut berakhir di tempat sampah, sehingga nilai guna dan “investasi” perangkat audio menjadi dipertanyakan.
2. Kulkas dan mesin pembuat es berlabel AI
Di dapur modern, label AI juga merambah mesin pembuat es. Salah satu klaimnya adalah kemampuan meredam kebisingan saat proses pembekuan, meski pada praktiknya kompresor tetap menimbulkan suara yang mengganggu. Hal serupa terjadi pada kulkas pintar yang harganya melonjak karena fitur perintah suara untuk membuka pintu otomatis. Fitur lain seperti rekomendasi resep dari sisa makanan juga dinilai sering meleset, sehingga dianggap lebih sebagai gimmick ketimbang kebutuhan.
3. Bingkai foto pintar yang bisa “berbicara”
Bingkai foto digital yang dilengkapi algoritma untuk menggerakkan bibir dan mata pada foto statis semula menjanjikan pengalaman nostalgia. Namun, hasil visualnya kerap terlihat kaku dan memunculkan efek uncanny valley, bahkan dinilai menyeramkan ketika digunakan pada foto mendiang anggota keluarga atau hewan peliharaan. Akibatnya, perangkat ini disebut lebih sering berakhir menjadi pajangan yang menguras baterai.
4. AI Soulmate Device (tabung pendamping digital)
Di tengah maraknya aplikasi pendamping virtual di ponsel, ada perusahaan yang merilis perangkat keras berbentuk tabung silinder sebagai “wadah fisik” belahan jiwa digital. Perangkat ini membutuhkan ruang tersendiri di meja dan mengirim notifikasi yang dianggap mengganggu. Produk tersebut juga menuai kritik dari psikolog yang menilai perangkat semacam ini berpotensi memperparah isolasi sosial dan menjauhkan pengguna dari interaksi nyata.
5. AI-powered hairclipper (alat cukur rambut pintar)
Alat cukur rambut ini mengharuskan pengguna memakai perangkat pemindai kepala yang terhubung ke aplikasi ponsel sebelum memotong rambut. Produsen menjanjikan kalkulasi presisi berdasarkan bentuk wajah untuk menghasilkan potongan yang dianggap paling sesuai. Namun, pemangkasan rambut tetap membutuhkan fleksibilitas, insting, dan keterampilan motorik tangan manusia—hal yang dinilai belum bisa digantikan sepenuhnya oleh sistem berbasis algoritma. Ketergantungan pada perangkat yang rentan error pun dikhawatirkan memicu hasil potongan yang tidak diinginkan.
Pelajaran dari kegagalan wearable AI
Sejumlah produk yang dinilai mengecewakan pada 2026 disebut tidak lepas dari efek domino kegagalan perangkat wearable AI setahun sebelumnya, seperti Humane AI Pin dan Rabbit R1. Produk yang sempat digadang-gadang bisa menggantikan smartphone itu dianggap tidak praktis, lambat, dan mudah panas ketika digunakan dalam kondisi sehari-hari.
Konsumen diminta tetap kritis
Memasuki pertengahan 2026, persaingan teknologi kembali menegaskan bahwa tidak semua barang perlu diubah menjadi perangkat pintar. Konsumen disarankan mengutamakan fungsi nyata ketimbang terpikat label futuristik. Sikap kritis dinilai penting agar pengeluaran tidak habis untuk gadget berbasis gimmick yang masa pakainya singkat dan manfaatnya terbatas.