Di tengah dominasi gadget modern dan media sosial, handy talky (HT) masih diminati sebagian generasi muda. Anak-anak generasi alpha bahkan mulai terlihat piawai menggunakan perangkat komunikasi radio amatir.
Pemandangan itu tampak dalam acara Gathering Net Control Station (NCS) yang digelar Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal Batang di halaman Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Batang, Sabtu (16/5/2026). Di antara para operator radio senior, hadir peserta termuda yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan tercatat sebagai peserta nomor urut pertama dalam kompetisi tersebut.
Ketua ORARI Lokal Batang, Edhy Sulisdiyanto, menyatakan kebanggaannya melihat antusiasme generasi muda terhadap dunia radio amatir. “Peserta nomor satu tadi masih kelas 6 SD. Generasi muda sekali, masih sangat belia,” kata Edhy.
Peserta muda itu memiliki call sign Yankee Delta Two Alpha Echo Mike (YD2AEM) dan akrab disapa Mas Bara. Ia datang dari Pemalang untuk mengikuti gathering bersama operator radio dari berbagai daerah.
Menurut Edhy, meski usianya masih muda, kemampuan Bara dalam mengendalikan frekuensi radio dinilai sudah cukup matang dan memenuhi syarat sebagai operator kegiatan amatir radio. “Sudah cukup oke. Bagi kami sudah memenuhi syarat untuk menjadi operator kegiatan amatir radio,” ujarnya.
Gathering NCS ini diikuti peserta dari Call Area 2, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Jawa Tengah. Dalam perlombaan, peserta diuji kemampuan komunikasi radio, mulai dari jumlah QSO atau kontak radio yang berhasil dilakukan, validitas data, tata bahasa, hingga teknik penyampaian saat mengudara.
Edhy menilai anggapan bahwa radio amatir merupakan teknologi usang tidak terbukti. Ia menyebut saat ini banyak anak muda usia SMP hingga SMA mulai tertarik menggunakan HT karena mulai jenuh dengan ponsel pintar.
Selain sebagai hobi, radio amatir juga dinilai memiliki fungsi penting saat kondisi darurat. Ketika jaringan seluler dan listrik terganggu akibat bencana, komunikasi radio masih dapat diandalkan. “ORARI ini kayaknya tidak akan mati karena menjadi cadangan komunikasi emergency nasional. Ketika ada bencana, seluler mati, listrik mati, hanya komunikasi radio yang masih bisa digunakan,” tegas Edhy.
Kegiatan gathering yang berlangsung selama dua hari itu tidak hanya berisi perlombaan operator radio. Pada hari kedua, peserta mengikuti Eyeball QSO, tradisi pertemuan tatap muka antaranggota radio amatir yang sebelumnya berkomunikasi lewat frekuensi udara.
Dalam Eyeball QSO, peserta saling berburu tanda tangan untuk mengumpulkan poin. Semakin tinggi jabatan anggota yang ditemui, semakin besar poin yang didapat. “Biasanya hanya ketemu di frekuensi dan tidak tahu orangnya yang mana. Kalau Eyeball QSO ini bisa langsung ketemu dan saling ngobrol,” kata Edhy.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, ORARI menunjukkan bahwa komunikasi radio amatir masih tetap eksis dan terus diwariskan dari generasi senior kepada generasi muda.