BERITA TERKINI
Di Tengah Gempuran Gadget, Teladan Keluarga Nabi Ibrahim Dinilai Tetap Relevan

Di Tengah Gempuran Gadget, Teladan Keluarga Nabi Ibrahim Dinilai Tetap Relevan

ENTIKONG — Di tengah meningkatnya konflik rumah tangga dan kian renggangnya hubungan emosional antara orang tua dan anak pada era modern, sosok Nabi Ibrahim dinilai tetap relevan sebagai teladan dalam membangun keluarga yang harmonis, kokoh, dan penuh keberkahan. Nilai tauhid yang kuat, keteladanan sikap dan perilaku, serta pendekatan emosional yang hangat kepada keluarga disebut menjadi fondasi penting untuk menjaga keutuhan rumah tangga di tengah derasnya tantangan kehidupan dan pengaruh zaman digital.

Penyuluh Agama Islam Kecamatan Parindu, Ageng Setia Perdana, menilai banyak keluarga masa kini lebih dibangun di atas kepentingan materi, gengsi, dan pencapaian duniawi, namun minim komunikasi hangat serta nilai-nilai spiritual dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, kondisi tersebut membuat hubungan antaranggota keluarga perlahan menjadi rapuh, mudah renggang, dan rentan dipengaruhi arus negatif dari lingkungan luar maupun pengaruh media sosial.

“Rumah Nabi Ibrahim itu sederhana tetapi penuh cahaya. Rahasianya karena dibangun dengan iman, kasih sayang dan kedekatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala,” kata Ageng dalam Obrolan Mutiara Pagi RRI Sanggau, Kamis, 21 Mei 2026.

Ia mencontohkan keteladanan Nabi Ibrahim dalam membangun komunikasi yang lembut dan penuh kasih sayang, sekaligus menghadirkan kedekatan emosional dengan anak. Ageng menilai pendekatan yang menyentuh hati, disertai keteladanan nyata, lebih efektif membentuk karakter anak dibanding sekadar memberi perintah, nasihat, atau tuntutan tanpa contoh dalam keseharian.

“Ketika ada perintah menyembelih Nabi Ismail, Nabi Ibrahim tidak langsung memaksa. Beliau berdiskusi, membangun pendekatan emosional dan menghargai perasaan anaknya,” ujarnya.

Ageng juga menyoroti situasi saat ini ketika banyak orang tua terlalu disibukkan urusan mencari nafkah dan tuntutan ekonomi, hingga tanpa disadari mengabaikan peran penting sebagai imam sekaligus sahabat bagi anak-anak di rumah. Ia menegaskan, anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan materi, tetapi juga perhatian tulus, komunikasi hangat, nasihat yang membimbing, serta keteladanan dari keluarga.

“Anak itu tidak cukup hanya diberi uang jajan dan fasilitas. Mereka juga butuh pelukan, perhatian, komunikasi, dan contoh baik dari orang tua,” kata Ageng.

Secara khusus, ia mengajak masyarakat memperkuat fondasi rumah tangga berlandaskan nilai-nilai agama, disertai tumbuhnya kasih sayang, saling pengertian, dan komunikasi harmonis dalam keluarga. Dengan meneladani keteguhan dan ketulusan keluarga Nabi Ibrahim, ia berharap keluarga di Indonesia mampu melahirkan generasi yang kokoh dalam iman, berakhlak mulia, serta tangguh secara mental menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.