BERITA TERKINI
Digitalisasi Sawah Dorong Pertanian Padi Cerdas dan Tingkatkan Pendapatan Petani

Digitalisasi Sawah Dorong Pertanian Padi Cerdas dan Tingkatkan Pendapatan Petani

Ilmu pengetahuan dan teknologi kian berperan dalam mendorong pembangunan sektor pertanian. Penerapan digitalisasi di lahan persawahan yang sebelumnya dikelola secara tradisional mulai mengubah pola produksi menjadi “sawah pintar”, dengan produktivitas yang lebih tinggi dan pendapatan petani yang lebih stabil, sekaligus mengarah pada praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.

Salah satu contoh penerapan pertanian padi cerdas dilakukan Koperasi Pertanian Umum Ba Dinh di Komune Vinh Loc. Koperasi ini mengelola hampir 750 hektar lahan garapan dan mengembangkan model padi-udang serta sejumlah model ekonomi terintegrasi lainnya.

Ketua Dewan Direksi sekaligus Direktur Koperasi Ba Dinh, Nong Van Thach, mengatakan transformasi digital dan penerapan teknologi dalam produksi menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan produktivitas, kualitas, dan nilai produk. Menurut dia, koperasi telah berinvestasi dan menerapkan sejumlah solusi teknologi, termasuk penggunaan drone dan alat penabur benih berkelompok untuk penanaman padi.

Penggunaan peralatan tersebut membantu proses penaburan berlangsung lebih cepat dan merata, menghemat benih, menekan biaya tenaga kerja, meningkatkan efisiensi produksi, serta mengurangi hama dan penyakit. Selain itu, seluruh area penanaman padi di koperasi tersebut juga menggunakan mesin pemanen gabungan. Langkah ini dinilai mempercepat proses panen, mengurangi kehilangan pascapanen, dan menjaga kualitas padi.

Dalam aspek manajemen dan ketelusuran, Koperasi Ba Dinh menerapkan perangkat lunak FaceFarm. Seluruh proses produksi, dari penanaman hingga panen, dicatat secara transparan sehingga konsumen dapat memeriksa informasi produk dengan lebih mudah. Koperasi juga menggunakan sejumlah perangkat digital untuk pengelolaan, seperti faktur elektronik, tanda tangan digital, dan pembayaran melalui perbankan digital, yang disebut membantu operasional menjadi lebih akurat, tepat waktu, efisien, dan sesuai ketentuan.

Digitalisasi juga dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan dengan pasar. Melalui platform e-commerce dan berbagai solusi digital, produk koperasi dapat menjangkau lebih banyak mitra, meningkatkan nilai produk, serta memperluas jangkauan pemasaran.

Perubahan serupa terjadi di Provinsi Ca Mau, di mana penerapan teknologi digital disebut membawa transformasi signifikan dalam produksi pertanian. Jika sebelumnya petani harus turun langsung ke sawah untuk memeriksa serangan hama, kini informasi dapat diakses melalui ponsel pintar yang terhubung internet.

Di Koperasi Jasa Pertanian Thanh Son, Komune Vinh My, pembangunan dan pengoperasian “Jaringan Pemantauan Hama Cerdas” sejak 2022 dilaporkan memberikan manfaat bagi petani. Ketua Dewan Direksi sekaligus Direktur koperasi tersebut, Tran Van Ngo, menyebut perangkat ini memungkinkan petani memantau kondisi produksi kapan saja dan di mana saja, sehingga penggunaan pestisida bisa lebih terukur—tepat sasaran, tepat jenis, dan tepat dosis—dibandingkan kebiasaan penyemprotan yang sebelumnya dilakukan secara lebih umum. Menurutnya, pendekatan ini membantu menghemat biaya produksi.

Seiring teknologi mulai diterapkan, pola bertani di sawah pun perlahan berubah. Pengalaman tradisional tetap digunakan, namun petani mulai menjalankan produksi secara lebih sistematis melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan digitalisasi, baik dalam proses budidaya maupun pemasaran.

Trinh Van Ngang, anggota Koperasi Layanan Pertanian Dong Tam di Komune Chau Thoi, mengatakan sebelumnya petani setempat kerap menghadapi situasi “panen melimpah, harga rendah”. Setelah bergabung dalam koperasi produksi, petani lebih fokus pada peningkatan kualitas dan berani menerapkan teknologi untuk menaikkan produktivitas sekaligus menurunkan biaya investasi.

Ia mencontohkan penggunaan drone untuk menyemprotkan pestisida, menyebar pupuk, dan menanam padi. Menurutnya, pekerjaan penyemprotan pestisida di lahan 1 hektar yang sebelumnya membutuhkan 7 hingga 8 jam kerja manual, kini dapat dilakukan dalam 5 hingga 10 menit. Penerapan teknologi ini juga disebut mengurangi biaya, membatasi paparan bahan kimia, dan menekan polusi lingkungan.

Trinh Van Ngang memperkirakan transformasi digital dapat meningkatkan keuntungan petani sekitar 10 hingga 15 juta VND per hektar dibandingkan produksi tradisional. Dengan arah perubahan ini, berbagai koperasi di wilayah tersebut menilai pertanian modern berbasis teknologi menjadi salah satu jalur untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung keberlanjutan.