BERITA TERKINI
Dokter Anak: Arus Informasi Kesehatan di Internet Bikin Orang Tua Lebih Tahu, tapi Mudah Panik

Dokter Anak: Arus Informasi Kesehatan di Internet Bikin Orang Tua Lebih Tahu, tapi Mudah Panik

Derasnya arus informasi kesehatan anak di media sosial dan internet memunculkan fenomena baru di ruang praktik dokter. Sejumlah orang tua datang dengan pengetahuan yang lebih luas, namun pada saat yang sama lebih mudah panik sebelum anak menjalani pemeriksaan medis.

Dokter spesialis anak, Yesi Oktavia Dewi, mengatakan kondisi tersebut kini semakin sering ditemui dalam praktik sehari-hari. Menurutnya, kemudahan akses informasi mendorong orang tua lebih aktif mencari referensi kesehatan, tetapi tidak semua informasi yang dibaca sesuai dengan kondisi anak.

“Sekarang orang tua datang dengan informasi yang jauh lebih banyak dibanding beberapa tahun lalu. Tapi kadang karena terlalu banyak membaca, mereka justru jadi lebih cemas,” ujar dr. Yesi, dikutip Senin (18/5/2026).

Situasi ini menjadi tantangan baru dalam layanan kesehatan anak. Dokter tidak hanya berperan memberikan diagnosis dan pengobatan, tetapi juga membantu meredakan kecemasan keluarga pasien.

“Kadang yang dibutuhkan orang tua bukan cuma jawaban medis, tapi juga rasa tenang karena merasa didengarkan,” katanya.

Sulit menyaring informasi kesehatan anak

Menurut dr. Yesi, banjir informasi kesehatan di era digital membuat banyak keluarga kesulitan memilah mana informasi yang valid dan mana yang menyesatkan. Tidak sedikit orang tua datang dalam kondisi sudah terlalu khawatir setelah membaca berbagai artikel, unggahan media sosial, hingga pengalaman pengguna lain di internet.

Kondisi tersebut menunjukkan literasi digital kesehatan masih menjadi tantangan. Informasi yang tidak terverifikasi berpotensi memperburuk kecemasan orang tua dan memengaruhi keputusan penanganan anak. Di sisi lain, dokter dituntut lebih komunikatif agar keluarga pasien merasa aman dan memperoleh penjelasan yang utuh.

Penggunaan gadget pada anak kian sulit dikendalikan

Selain persoalan informasi digital, dr. Yesi juga menyoroti penggunaan gadget pada anak yang dinilai semakin sulit dibatasi. Menurutnya, screen time berlebih mulai berdampak pada berbagai aspek tumbuh kembang anak, mulai dari pola tidur, kemampuan fokus, hingga kestabilan emosi.

Ia menyebut semakin banyak anak mengalami ketergantungan pada gadget. Dampaknya terlihat dari meningkatnya tantrum, gangguan waktu istirahat, hingga kesulitan berinteraksi tanpa layar digital. Fenomena ini menjadi perhatian bagi keluarga di tengah masifnya penggunaan perangkat digital dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan emosional dalam penanganan pasien anak

Di tengah perkembangan teknologi kesehatan, dr. Yesi menegaskan pendekatan emosional tetap penting dalam penanganan pasien anak. Menurutnya, pengalaman anak saat bertemu dokter dapat membentuk pandangan mereka terhadap dunia kesehatan hingga dewasa.

“Anak biasanya lebih mengingat bagaimana mereka diperlakukan dibanding penjelasan medis yang diberikan. Pengalaman mereka saat bertemu dokter itu penting,” ujarnya.

Karena itu, suasana pemeriksaan yang nyaman dinilai perlu agar anak tidak merasa takut ketika datang ke rumah sakit atau klinik. “Sebab pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan obat untuk sembuh, tetapi juga rasa nyaman agar mereka merasa aman dan dicintai,” kata dia.