BERITA TERKINI
Dokter Anak Ingatkan Dampak Gawai Berlebihan: Ganggu Tidur, Konsentrasi, hingga Kesehatan Mental Anak

Dokter Anak Ingatkan Dampak Gawai Berlebihan: Ganggu Tidur, Konsentrasi, hingga Kesehatan Mental Anak

Dokter Anak dan Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Tuty Herawaty, mengingatkan risiko penggunaan gadget dan media sosial secara berlebihan pada anak-anak dan remaja. Ia menilai kebiasaan bermain gawai hingga larut malam dapat berdampak pada kualitas tidur dan proses tumbuh kembang.

Tuty menjelaskan, penggunaan gadget sampai malam berpotensi mengganggu produksi hormon melatonin yang berperan penting dalam tidur dan pertumbuhan. Ia mencontohkan anak yang awalnya tidur larut karena asyik bermain gawai, lama-kelamaan dapat terbiasa tidur semakin malam.

Peringatan itu disampaikan Tuty saat menjadi pemateri dalam Forum Sahabat Tunas bertema “Aman di Dunia Maya, Sehat di Dunia Nyata” di SMPN 25 Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, kurang tidur akibat penggunaan gawai berlebihan dapat memengaruhi kemampuan kognitif anak. Dampaknya terlihat di sekolah, mulai dari mudah mengantuk, sulit berkonsentrasi, hingga kesulitan memahami pelajaran. Kondisi tersebut, kata dia, dapat mengganggu fokus belajar dan berujung pada penurunan prestasi.

Selain akademik, Tuty menilai media sosial juga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Ia menyoroti fenomena fear of missing out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal tren atau informasi yang mendorong anak membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Standar kehidupan yang ditampilkan di media sosial, menurutnya, kerap membuat anak merasa minder dan tidak puas terhadap dirinya sendiri, yang kemudian dapat memengaruhi regulasi emosi hingga memicu kecemasan.

Ia juga mengingatkan berbagai risiko lain di ruang digital, seperti perundungan siber, penipuan, hingga paparan konten yang tidak pantas akibat algoritma internet. Tuty menekankan bahwa tidak semua orang di internet memiliki niat baik dan anak berpotensi terpapar konten yang tidak sesuai usia.

Dari sisi sosial, penggunaan gadget yang terlalu intens dinilai dapat mengurangi kemampuan interaksi anak. Anak menjadi lebih nyaman berkomunikasi lewat pesan singkat dibanding berbicara langsung, sehingga kemampuan memahami emosi orang lain dan rasa percaya diri bisa menurun.

Risiko kesehatan fisik juga menjadi perhatian. Tuty menyebut kebiasaan menunduk terlalu lama saat menggunakan gadget dapat memicu postur tubuh yang buruk, nyeri leher, gangguan tulang belakang, sakit kepala, hingga gangguan penglihatan.

Untuk mengurangi dampak tersebut, Tuty mendorong anak-anak lebih banyak beraktivitas fisik dan berinteraksi langsung dengan teman sebaya. Ia juga menyarankan penggunaan gadget dihentikan minimal dua jam sebelum tidur, bahkan anak sebaiknya tidak lagi menggunakan ponsel setelah pukul 19.00 WIB agar kualitas tidur tetap terjaga.

Tuty menambahkan, peran guru dan orang tua dinilai penting untuk mengawasi penggunaan gadget melalui aturan yang jelas di rumah maupun di sekolah.