BERITA TERKINI
Dokter Soroti 4 Kesalahan Orang Tua Saat Memberi Gadget pada Anak yang Sering Tak Disadari

Dokter Soroti 4 Kesalahan Orang Tua Saat Memberi Gadget pada Anak yang Sering Tak Disadari

Pemberian gadget pada anak kini kian lazim dalam keseharian. Tak sedikit orang tua memanfaatkannya agar anak lebih tenang saat bermain. Namun, kebiasaan ini dapat berdampak pada tumbuh kembang anak bila dilakukan tanpa pengawasan dan aturan yang jelas.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang Pediatrik Sosial, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A, Subsp.TKPS(K), MPH, menyebut penggunaan gadget dapat memicu sejumlah masalah perkembangan pada anak. Salah satu yang paling sering ditemui adalah keterlambatan perkembangan bahasa.

“Biasanya, yang paling sering itu di masalah perkembangan bahasa. Anak-anak ini biasanya mengalami keterlambatan sedikit di bahasanya,” ujar dr. Bernie, dikutip dari kanal YouTube @IDAITV2020.

Dalam penjelasannya, dr. Bernie juga menyoroti beberapa kebiasaan orang tua saat memberikan gadget kepada anak yang kerap terjadi tanpa disadari. Berikut empat kesalahan yang disebutnya.

1. Memberikan gadget terlalu dini

Menurut dr. Bernie, masih banyak orang tua yang mengenalkan gadget sejak anak berusia sangat kecil. Padahal, pada masa tumbuh kembang, anak lebih membutuhkan interaksi langsung dan kegiatan bermain bersama orang-orang di sekitarnya.

Ia menekankan, bila orang tua ingin memberikan gadget, perlu ada batasan yang dipahami agar penggunaan tidak berlebihan. “Kalau yang saya lihat ya yang pertama mungkin terlalu dini. Seharusnya, anak-anak tidak perlu dahulu diperkenalkan dengan gadget-nya atau kalau misalnya mau memberikan, ada batasan-batasan tertentu yang harus kita tahu,” kata dr. Bernie.

2. Mengabaikan durasi pemakaian

Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah orang tua tidak memperhatikan lamanya anak menggunakan gadget. Durasi penggunaan, menurut dr. Bernie, sebaiknya disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.

“Kadang-kadang, orang tua lupa durasinya berapa lama sih. Misalnya kita berikan tapi kalau durasinya disesuaikan ya dengan usia gitu ya, itu masih enggak apa-apa ya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan paparan layar tidak hanya berasal dari gadget. Televisi yang menyala hampir sepanjang hari dapat membuat total paparan layar anak semakin tinggi. “Aduh dok, saya mengaku nih seharian betul-betul dan bahkan TV nyala terus, diselingi dengan gadget juga gitu. Jadi, sudah dobel nih ya,” kata dr. Bernie menggambarkan pengakuan sebagian orang tua.

3. Orang tua tidak memahami konten yang diakses anak

Dr. Bernie menilai, orang tua juga kerap tidak mengetahui konten yang diakses anak melalui gadget. Anak-anak yang tumbuh di era digital disebut lebih cepat mempelajari teknologi dibandingkan orang tuanya.

“Bisa juga kontennya kita enggak tahu ya, konten yang orang tua tidak mengerti karena anak digital natives,” tuturnya. Ia menambahkan, orang tua perlu menetapkan aturan dan memberi pemahaman kepada anak tentang konten yang boleh dan tidak boleh diakses. “Kita harus memberitahu mana yang benar, mana yang salah, mana yang boleh, mana yang tidak. Jadi, aturan-aturan itu memang harus diperhatikan,” lanjutnya.

4. Memberikan gadget agar anak lebih mudah makan

Kesalahan berikutnya adalah penggunaan gadget sebagai “alat” agar anak mau makan, terutama ketika anak mulai sulit makan pada fase MPASI. Dr. Bernie menyebut praktik ini menjadi persoalan yang sering ditemui pada orang tua saat ini.

“Memang biasanya orang tua memulai karena mungkin anak sulit makannya, ya,” ujarnya. Saat anak makin aktif dan sulit duduk diam, sebagian orang tua merasa lebih aman jika anak fokus pada gadget sehingga proses makan dianggap lebih mudah. “Maka orang tua merasa sudah lebih amannya kasih gadget, sehingga dia bisa duduk terfokus pada gadget, kemudian tinggal mulutnya dibuka,” kata dr. Bernie.

Padahal, menurutnya, proses makan bukan semata soal asupan nutrisi. Ada proses belajar yang penting ketika anak makan sendiri, mulai dari mengenal makanan hingga melatih koordinasi tangan dan mulut. “Proses memberi makan pada anak itu bukan hanya memberikan nutrisi saja. Tetapi, itu adalah proses belajar,” ucapnya.

Ia menyarankan agar perhatian anak dialihkan pada suasana makan bersama keluarga, dengan orang tua menjadi contoh. Dr. Bernie menyebut orang tua dapat memberi porsi kecil terlebih dahulu dan membiarkan anak bereksplorasi dengan tangannya, lalu sisanya disuapi bila diperlukan. “Nah, tapi ada kebersamaan. Kemudian ada contoh, ada interaksi, dan ada waktu dia untuk bereksplorasi,” tuturnya, sambil menyinggung pendekatan responsive feeding untuk membantu anak mengenali rasa lapar dan kenyang.