BERITA TERKINI
Dolar Tembus Rp17.700, Ritel Gadget Waspadai Tekanan Harga Produk Premium

Dolar Tembus Rp17.700, Ritel Gadget Waspadai Tekanan Harga Produk Premium

Jakarta — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level Rp17.700 mulai memberi tekanan pada industri ritel gadget, termasuk penjualan produk premium seperti Apple. Kondisi ini dinilai berpotensi memengaruhi harga jual produk di pasar domestik.

GM Marketing Apple PT MAP Zona Adiperkasa, Farah Fausa Winarsih, mengatakan kenaikan dolar merupakan faktor yang berada di luar kendali pelaku usaha. Namun, pergerakan kurs tersebut tetap berdampak pada penentuan harga.

“Jadi kenaikan dolar itu adalah sesuatu yang nggak bisa kita kontrol ya. Udah pasti akan ada efek ke dalam pricing-nya kami,” ujar Farah usai peluncuran Macbook Neo di Digimap Mal Pacific Place, Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Farah menjelaskan tekanan kurs berpotensi mendorong penyesuaian harga untuk sejumlah produk tertentu, terutama produk yang sudah lebih dulu beredar di pasar. Sementara itu, untuk produk baru yang saat ini masuk ke Indonesia, harga disebut masih belum mengalami perubahan.

“Kalau yang baru masuk sekarang kita harganya masih stay di sini ya. Tapi kalau untuk produk-produk yang [sudah beredar], mungkin akan ada penyesuaian,” katanya.

Ia menambahkan dampak fluktuasi dolar AS tidak hanya dirasakan oleh produk Apple, melainkan hampir seluruh produk ritel. “Ini nggak cuma terjadi di produk Apple ya, semua produk kena impact,” ujar Farah.

Di sisi pasokan, Farah memastikan kenaikan dolar belum mengganggu impor produk Apple ke Indonesia. Menurutnya, jumlah barang dan distribusi masih berjalan normal.

Meski demikian, pelaku ritel disebut mulai lebih berhati-hati menjaga penjualan di tengah potensi kenaikan harga akibat kurs. “Kalau dari segi impor sebenarnya tidak terganggu. Numbers masih sama. Cuma semua retail brand pasti lebih conscious apakah bisa menjual dengan kenaikan harga ini,” kata Farah.

Terkait besaran potensi kenaikan harga, Farah belum merinci angka pasti. Ia menilai pergerakan dolar sangat dinamis dan dapat berubah dalam hitungan hari, sehingga penyesuaian harga juga bisa mengikuti perkembangan kurs.

“Kita selalu berusaha beradaptasi dengan harga tersebut. Bisa jadi tiga sampai empat hari harga berubah, nanti kalau dolar turun kita adjust lagi. Jadi kita selalu coba match dengan perkembangan dolar,” jelasnya.

Untuk menjaga keterjangkauan produk bagi konsumen, perusahaan mengandalkan kerja sama dengan mitra pembiayaan, mulai dari perbankan hingga layanan paylater. Farah menyebut strategi pembiayaan menjadi salah satu kunci agar konsumen tetap bisa membeli perangkat di tengah tekanan kurs, melalui program seperti cicilan ringan, bebas bunga, hingga promo pembayaran tertentu.

Selain itu, program trade-in juga dinilai dapat membantu menekan biaya pembelian perangkat baru. Konsumen dapat menukar perangkat lama sehingga harga produk yang dibeli menjadi lebih rendah.

“Dengan trade-in, produk sebelumnya bisa mengurangi harga produk baru. Jadi walaupun dolar naik, dengan promo dan penawaran yang ada, customer masih lebih mudah mendapatkan produk,” pungkasnya.