Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menilai anomali cuaca ekstrem, gelombang panas, dan krisis pemanasan global yang terjadi saat ini menuntut aksi nyata dari kalangan akademisi. Merespons kondisi tersebut, UMM menjalankan riset berbasis penerapan di lapangan untuk menekan emisi gas rumah kaca.
Inisiatif ini digagas Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM. Nugroho menjadi penerima pendanaan Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Tahun 2025–2026 dengan nilai hibah Rp450.000.000.
Riset bertajuk Model Peningkatan Penyerapan Karbon di Kabupaten Malang dirancang sebagai proyek lintas disiplin yang berfokus pada upaya reduksi emisi gas rumah kaca. Nugroho menjelaskan, kekhasan riset ini terletak pada penerapan konsep living lab atau laboratorium hidup, yakni pendekatan eksperimental yang dilakukan langsung di alam terbuka bersama masyarakat dan pemerintah, bukan hanya melalui kajian di dalam ruangan.
“Sebetulnya penelitian mengenai penyerapan karbon sudah banyak, namun kebaruannya ada pada kolaborasi living lab. Kami mengintegrasikan peneliti, kelompok masyarakat, dan pemerintah daerah untuk menerapkannya langsung di lapangan serta memantau perkembangannya bersama-sama,” kata Nugroho dalam rilis UMM, Sabtu (16/5).
Untuk menjalankan program tersebut, tim peneliti UMM menggandeng sejumlah mitra, antara lain Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Yayasan Bakti Alam Sendang Biru, dan Kelompok Tani Hutan Pujon Hill.
Tahap awal pelaksanaan akan dimulai dengan pemetaan potensi serapan karbon. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi dan pelatihan teknis bagi warga. Petani lokal dipersiapkan mengelola lahan secara berkelanjutan melalui skema agroforestri serta penanaman spesies dengan daya serap karbon tinggi, seperti mangrove.
Nugroho menyebut pembekalan tersebut diharapkan memunculkan dampak berantai, tidak hanya memperbaiki kualitas ekosistem, tetapi juga meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat sekaligus berkontribusi pada mitigasi iklim.
“Dampak dari penelitian ini memang menyasar cakupan Kabupaten Malang, namun problem perubahan iklim ini adalah isu global, sehingga aksi lokal kita ini kelak akan bermuara pada penyelamatan lingkungan secara internasional,” ujarnya.
Keberhasilan riset ini lolos seleksi program nasional turut didukung enam akademisi lintas disiplin dan fasilitasi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM. Nugroho berharap program tersebut tidak berhenti ketika masa pendanaan berakhir, melainkan dapat diadopsi menjadi landasan kebijakan pelestarian daerah yang berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya hasil riset perguruan tinggi memberi manfaat konkret bagi publik. “Sering kali sebuah temuan hanya berujung menjadi publikasi jurnal, maka cobalah untuk selalu mengaitkan hasil riset agar manfaatnya bisa langsung diterapkan dan dirasakan nyata oleh masyarakat maupun industri,” kata Nugroho.