Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi agenda strategis nasional dinilai tidak sekadar kegiatan distribusi makanan, melainkan investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung sekaligus Sekretaris Fraksi PKS, M. Syukron Muchtar, menilai keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada keterlibatan dunia akademik. Ia mendorong perguruan tinggi mengambil peran sentral sebagai pusat pengetahuan dan riset, bukan hanya sebagai pelaksana teknis.
Syukron menyebut skala penerima manfaat MBG yang mencapai puluhan juta jiwa membutuhkan kebijakan berbasis riset, inovasi pangan lokal, serta sistem monitoring yang kuat. Menurutnya, peran perguruan tinggi menjadi krusial untuk memastikan program berjalan efektif dan terukur.
Ia juga menilai Provinsi Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi contoh nasional dalam pengembangan MBG berbasis pangan lokal. Syukron menyoroti sejumlah komoditas daerah seperti singkong, jagung, padi, serta sektor perikanan yang dinilai melimpah dan dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Menurut Syukron, pemanfaatan komoditas lokal bukan hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat di daerah.
Lebih lanjut, ia merinci empat pilar yang dinilai perlu dipenuhi agar program MBG berjalan efektif, yakni kebijakan berbasis riset untuk memastikan nutrisi tepat sasaran, inovasi pangan lokal guna mengurangi ketergantungan pada produk impor, sistem monitoring yang ketat untuk menjamin kualitas dan transparansi, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Syukron menyatakan optimistis MBG dapat membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing apabila dikelola dengan pendekatan inovatif dan berbasis data. Ia menekankan keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi dari dampaknya terhadap masa depan generasi penerima manfaat.