Jakarta — Peringatan Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa turut ditentukan oleh semangat dan kualitas generasi muda. Dalam momentum tersebut, PT Indofood Sukses Makmur Tbk menegaskan komitmennya pada pengembangan sumber daya manusia melalui Program Indofood Riset Nugraha (IRN), program bantuan riset bagi mahasiswa S1.
Tahun ini, IRN memasuki dua dekade pelaksanaan. Program ini berfokus membantu riset mahasiswa untuk menggali potensi pengembangan produk pangan fungsional berbasis kearifan lokal masyarakat Indonesia yang beragam.
Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana, menyampaikan harapannya agar IRN terus mendorong semangat peneliti muda menjadi scientific-preneur yang inovatif dan siap berkontribusi bagi masyarakat, terutama dalam mengembangkan potensi pangan lokal menjadi solusi sekaligus peluang usaha yang berdampak. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Selama 20 tahun berjalan, IRN telah menerima lebih dari 8.300 proposal penelitian. Dari jumlah tersebut, program ini mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa yang berasal dari lebih 200 universitas dan perguruan tinggi di Indonesia, dari Aceh hingga Papua.
Ketua Tim Pakar IRN yang juga Guru Besar IPB, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, menilai generasi muda, termasuk peneliti muda, merupakan motor penggerak dalam menjawab kompleksitas tantangan masa depan Indonesia. Menurutnya, untuk mewujudkan visi Indonesia Emas diperlukan peneliti yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga berani bereksplorasi dan berinovasi dengan mengoptimalkan potensi serta kearifan lokal.
Ia menyebut IRN tidak hanya mendukung riset akademik, tetapi juga membangun pola pikir kritis, kreatif, berani, dan inovatif. Program ini juga mendorong mahasiswa memperluas jejaring dan mengembangkan kapasitas agar dapat menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Selain bantuan dana penelitian, pelaksanaan IRN didukung tim pakar lintas disiplin dari berbagai perguruan tinggi terkemuka. Para pakar dari bidang teknologi pangan, sosial ekonomi, pertanian, peternakan, gizi dan kesehatan, perikanan dan kelautan, genetika dan bioteknologi molekuler, hingga praktisi industri terlibat dalam pendampingan, mulai dari seleksi proposal, bimbingan, hingga penilaian hasil riset. Peserta juga dibekali pelatihan soft skill untuk membangun karakter peneliti muda yang unggul dan tangguh.
Dedikasi program ini disebut telah memperoleh pengakuan di tingkat nasional dan internasional. Sejumlah penghargaan yang pernah diraih antara lain Asia Responsible Entrepreneurship Awards 2010 dari Enterprise Asia, Penghargaan Peduli Pendidikan Kemendikbud RI 2011, serta penghargaan Tempo untuk The Best CEO Outstanding Support for Student Academic Research bagi CEO Indofood pada 2024.
Stefanus Indrayana menyatakan IRN membawa semangat kolaborasi yang mempertemukan pelaku industri dan dunia akademik. Indofood memandang kerja sama dengan perguruan tinggi sebagai elemen penting untuk membangun ekosistem riset yang kredibel dan berkelanjutan.
Prof. Purwiyatno menambahkan Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal dan pangan fungsional yang besar. Tantangannya, menurut dia, adalah memastikan riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu mentransformasi potensi tersebut menjadi solusi pangan masa depan yang memberikan dampak ganda, yakni meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Selama perjalanannya, IRN juga membangun jejaring alumni lintas generasi dan daerah yang kini berkiprah di berbagai sektor, mulai dari peneliti, profesional, akademisi, entrepreneur, hingga penggerak inovasi pangan. Salah satu alumni IRN angkatan 2004, Prof. Dr. Fenny Martha Dwivany, yang kini menjadi Guru Besar ITB dan peneliti, menyebut pengalaman mengikuti IRN membantunya membentuk pola pikir kritis. Ia mengatakan IRN turut membekalinya untuk bertumbuh menjadi peneliti yang kritis, sistematis, dan mengedepankan semangat kolaboratif untuk inovasi yang berdampak.