BERITA TERKINI
Eks Eksekutif Google Nilai Gelar Hukum dan Kedokteran Tak Lagi Jadi “Tiket Emas” di Era AI

Eks Eksekutif Google Nilai Gelar Hukum dan Kedokteran Tak Lagi Jadi “Tiket Emas” di Era AI

Keyakinan bahwa kuliah di bidang hukum atau kedokteran merupakan “tiket emas” menuju karier mapan dan bergaji tinggi mulai dipertanyakan seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Pandangan ini disampaikan Jad Tarifi, mantan eksekutif Google yang disebut sebagai pendiri tim AI generatif pertama di perusahaan tersebut, sekaligus CEO startup AI Integral.

Tarifi menilai, menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah hukum atau kedokteran kini tidak lagi menjadi jaminan untuk karier masa depan. Menurut dia, sejumlah gelar tinggi—termasuk program doktor (Ph.D.)—berisiko kehilangan relevansi jika sistem pendidikan tetap bertumpu pada metode belajar yang mengandalkan hafalan dan pengenalan pola.

Ia menjelaskan, pekerjaan dasar yang biasa dilakukan pengacara junior atau dokter muda kerap berupa tugas-tugas rutin. Contohnya memilah dokumen hukum, mencari preseden kasus, atau mendiagnosis gejala klinis dasar berdasarkan buku teks. Kemampuan semacam itu, kata Tarifi, kini dapat diambil alih model bahasa besar (large language model/LLM) seperti ChatGPT dengan cepat dan akurat.

Tarifi juga menyinggung kemampuan model AI generasi terbaru yang disebut telah terbukti mampu lulus ujian sertifikasi pengacara dan ujian lisensi medis di Amerika Serikat dengan nilai melampaui rata-rata manusia.

Selain soal metode belajar, ia menyoroti durasi studi yang panjang. Program kedokteran, hukum, atau doktoral umumnya memakan waktu sekitar lima hingga delapan tahun. Di sisi lain, Tarifi menilai evolusi AI bergerak jauh lebih cepat dibanding pembaruan kurikulum akademik.

“AI itu sendiri akan berubah secara fundamental pada saat Anda menyelesaikan studi tersebut,” ujarnya, sebagaimana dikutip KompasTekno dari Fortune. Ia menilai, kondisi ini membuat mahasiswa berisiko mendapati pengetahuan teori yang dipelajari selama bertahun-tahun sudah dapat dieksekusi secara otomatis oleh perangkat lunak ketika mereka lulus.

Tarifi turut menyinggung perubahan nilai ekonomi dari sekadar “mengetahui informasi”. Jika sebelumnya gelar lanjutan kerap diasosiasikan dengan pekerjaan bergaji tinggi, ia menilai jaminan finansial tersebut perlahan memudar karena AI membuat nilai dari pengetahuan faktual mendekati nol.

Karena itu, Tarifi menyarankan agar seseorang mengejar gelar kedokteran, hukum, atau S3 bila memang memiliki ketertarikan dan passion mendalam—terutama untuk riset murni—bukan semata-mata demi keamanan finansial.

Dalam pandangannya, sistem pendidikan formal saat ini tertinggal dari perkembangan zaman. Ia mendorong mahasiswa untuk lebih cepat terjun ke dunia nyata guna mengasah keterampilan praktis. Tarifi juga menilai, kesuksesan dokter dan pengacara di masa depan kemungkinan tidak lagi diukur dari seberapa banyak pasal atau penyakit yang dihafal, melainkan dari empati, kecerdasan emosional, kemampuan beradaptasi, serta kemampuan membangun koneksi antarmanusia—keterampilan yang menurutnya belum dapat direplikasi oleh AI.