Mantan CEO Google, Eric Schmidt, mendapat sorakan dan cemoohan dari sebagian mahasiswa saat menyampaikan pidato kelulusan di University of Arizona, Amerika Serikat. Reaksi tersebut muncul ketika ia menyinggung kecerdasan buatan (AI) dalam pidatonya pada acara wisuda, Jumat (16/5/2026) waktu setempat.
Menurut laporan Business Insider, Schmidt mulanya berbicara tentang bagaimana teknologi modern membantu membangun “katedral pengetahuan” digital. Namun, ia juga menyinggung dampak negatif yang menyertai perkembangan itu, seperti polarisasi dan rusaknya ruang publik di internet.
Suasana mulai memanas ketika Schmidt membahas AI dan dampaknya terhadap masa depan pekerjaan. Ia menyatakan AI akan memengaruhi hampir semua bidang kerja di masa mendatang. Pernyataan tersebut langsung disambut sorakan dan teriakan “boo” dari sebagian mahasiswa yang hadir.
Menanggapi reaksi itu, Schmidt mengatakan, “Saya tahu apa yang kalian rasakan.” Ia menyebut kekhawatiran generasi muda terhadap AI, hilangnya pekerjaan, perubahan iklim, dan situasi politik dunia sebagai hal yang “rasional”.
Meski demikian, Schmidt tetap mendorong para lulusan untuk ikut membentuk perkembangan AI, bukan sekadar takut terhadap teknologi tersebut. Dalam bagian lain pidatonya, ia menyampaikan kutipan, “Ketika seseorang menawarkan kursi di roket, jangan tanya kursi yang mana. Naik saja,” yang kembali memicu respons negatif dari sebagian hadirin.
Laporan The Verge menilai reaksi mahasiswa itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran generasi muda terhadap AI, terutama terkait ancaman terhadap lapangan kerja dan masa depan karier. Kekhawatiran tersebut muncul di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, bersamaan dengan gelombang otomatisasi dan adopsi AI di berbagai industri.
Selain isu AI, sebagian mahasiswa juga disebut memprotes Schmidt terkait tuduhan pelecehan seksual dari mantan pasangannya yang mencuat tahun lalu. Schmidt membantah tuduhan tersebut.
Meski beberapa kali disoraki, Schmidt tetap menyelesaikan pidatonya. Ia menutup acara dengan pesan bahwa masa depan masih dapat dibentuk oleh generasi para lulusan.