BERLIN — Perkembangan teknologi deepfake yang kian canggih memicu kekhawatiran di Eropa terkait meningkatnya risiko penipuan, manipulasi informasi, serta pelanggaran privasi yang dinilai semakin sulit dikendalikan.
Deepfake merupakan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat menciptakan gambar, video, dan audio palsu dengan meniru sosok orang sungguhan. Sejumlah lembaga pemantauan dan organisasi penelitian di Eropa menilai fenomena ini mulai terlihat sebagai ancaman sistemik, karena dampaknya menyentuh keamanan digital, privasi, hingga ketertiban sosial.
Menurut penilaian lembaga-lembaga tersebut, deepfake memunculkan “dampak ganda” yang mengkhawatirkan. Di satu sisi, teknologi ini mengikis kepercayaan publik terhadap informasi yang beredar. Di sisi lain, deepfake memperluas ruang terjadinya pelanggaran pribadi, seiring makin mudahnya konten palsu dibuat dan disebarkan.
Bahaya deepfake juga dinilai terletak pada kemampuannya mengeksploitasi refleks alami manusia untuk mempercayai apa yang dilihat dan didengar. Kondisi itu membuat batas antara kebenaran dan kebohongan semakin kabur, terutama ketika konten yang dimanipulasi tampil meyakinkan.
Data pemantauan menunjukkan penyebaran konten semacam ini meningkat. Dari lebih dari 2.000 kasus pengecekan fakta yang tercatat di Eropa pada tahun ini, hampir sepertiganya disebut melibatkan konten yang dimanipulasi oleh AI.
Temuan lain datang dari survei Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) di 21 negara. Survei tersebut menunjukkan masyarakat hanya dapat mengidentifikasi informasi yang benar secara akurat dalam sekitar 60% kasus, menggambarkan adanya kesenjangan kemampuan dalam membedakan informasi di ruang digital.
Berbeda dengan berita palsu pada umumnya yang masih dapat dilacak lewat perbandingan sumber atau konteks, deepfake dinilai lebih sulit dihadapi karena bekerja langsung menipu indra manusia. Dengan kualitas manipulasi yang terus meningkat, pengawasan terhadap penyebaran dan dampaknya menjadi perhatian serius di Eropa.