BERITA TERKINI
Festival Kaulinan Tradisional di Ciamis Ajak Anak Kembali Bermain Congklak dan Oray-orayan di Tengah Maraknya Gawai

Festival Kaulinan Tradisional di Ciamis Ajak Anak Kembali Bermain Congklak dan Oray-orayan di Tengah Maraknya Gawai

Suara tawa anak-anak dan iringan musik tradisional Swaranarasa terdengar di Gedung Puspita Kabupaten Ciamis, Senin (18/5/2026). Di tengah maraknya permainan digital dan penggunaan gawai pada anak, sejumlah kaulinan baheula seperti congklak, oray-orayan, dan permainan rakyat lainnya kembali dimainkan dalam Festival Kaulinan Tradisional dan Diskusi Parenting Berbasis Budaya.

Kegiatan ini digagas Sekolah Motekar bersama Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Ciamis serta komunitas kaulinan barudak. Selain menjadi ruang edukasi budaya, acara tersebut juga mengajak masyarakat agar anak-anak kembali akrab dengan permainan tradisional.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis, Dian Budiyana, yang hadir dalam kegiatan itu menegaskan bahwa kaulinan rakyat termasuk salah satu dari 10 objek pemajuan kebudayaan yang wajib dijaga keberlangsungannya. Ia menekankan pemahaman budaya tidak terbatas pada peninggalan benda, melainkan juga hasil pemikiran dan kebiasaan masyarakat yang diwariskan antargenerasi.

“Budaya itu bukan hanya benda pusaka atau peninggalan leluhur. Budaya adalah perilaku dan nilai kehidupan yang diwariskan dalam kehidupan masyarakat,” ujar Dian.

Menurut Dian, kaulinan tradisional memiliki nilai pendidikan karakter yang kuat. Dalam setiap permainan, anak-anak dapat belajar kebersamaan, disiplin, keberanian, hingga kemampuan bersosialisasi. “Anak-anak belajar karakter dari kaulinan. Mereka belajar menghargai teman, bekerja sama, dan memahami nilai kehidupan melalui permainan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Dian juga menyampaikan apresiasi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat atas dukungan dan kolaborasi dalam pelestarian kaulinan tradisional di Kabupaten Ciamis. Ia menilai dukungan BPK, termasuk dukungan finansial bagi kegiatan budaya, menjadi penguat agar kaulinan rakyat tetap hidup di tengah masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat atas dukungan dan kerja sama yang diberikan dalam menjaga kaulinan tradisional sebagai warisan budaya,” ujar Dian.

Dian turut mengapresiasi konsistensi Sekolah Motekar dan komunitas kaulinan barudak yang terus mengenalkan permainan rakyat kepada anak-anak di Ciamis. Ia menyebut komunitas budaya sebagai “napas” yang menjaga kaulinan tradisional tetap hidup di tengah arus digitalisasi. “Kalau tidak ada yang terus menggerakkan, kaulinan barudak bisa hilang. Sekolah Motekar hari ini menjadi napas bagi kaulinan tradisional di Ciamis,” katanya.

Dalam paparannya, Dian memperkenalkan filosofi “3N” dalam pendidikan budaya melalui kaulinan tradisional, yakni napas, nupus, dan nupas. “Napas” dimaknai sebagai ruh dan penggerak agar kaulinan tradisional tetap hidup di masyarakat. “Nupus” dimaknai sebagai potensi dan kreativitas masyarakat dalam menjaga budaya melalui aktivitas edukatif. Sementara “nupas” menjadi simbol harapan lahirnya generasi muda yang memiliki karakter baik, mampu menjaga diri, serta tumbuh menjadi anak-anak yang saleh dan salehah.

“Kaulinan tradisional bukan sekadar permainan. Ini ruang pendidikan karakter, ruang sosial, bahkan ruang perlindungan anak,” ujar Dian. Ia berharap kaulinan tradisional kembali hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya yang terus diwariskan kepada generasi mendatang. “Harapannya lahir generasi Ciamis yang cageur, bageur, bener, pinter, dan singer sesuai nilai Pancawaluya,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Sekolah Motekar, Muhamad Rizky Ramdani, menyampaikan bahwa kaulinan tradisional semakin jarang dikenal anak-anak karena tergeser kebiasaan bermain gadget. Ia menilai kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan karena permainan tradisional menyimpan banyak nilai pendidikan dan sosial yang penting bagi tumbuh kembang anak.

“Kalau orang tua tidak mengenalkan kaulinan tradisional kepada anak-anaknya, lama-lama permainan ini akan hilang. Jadi sasaran utama kegiatan ini memang para orang tua,” ujar Rizky.

Rizky menambahkan, kaulinan tradisional bukan hanya permainan, melainkan ruang interaksi sosial yang mengajarkan kerja sama, komunikasi, empati, hingga keberanian. “Anak-anak belajar sambil bermain. Di dalam kaulinan ada pendidikan sosial, emosional, komunikasi, hingga pembentukan karakter,” katanya.

Ia mengatakan Sekolah Motekar bersama komunitas kaulinan barudak selama ini rutin menggelar edukasi permainan tradisional di lingkungan masyarakat sebagai upaya menjaga budaya lokal tetap hidup. Menurutnya, permainan tradisional masih relevan bagi anak-anak saat ini yang mulai kehilangan ruang bermain aktif dan interaksi sosial secara langsung.

“Permainan tradisional membuat anak bergerak, berpikir bersama, dan berinteraksi langsung dengan teman-temannya. Itu yang sekarang mulai hilang karena terlalu dekat dengan gadget,” ujar Rizky. Ia berharap permainan tradisional kembali menjadi bagian dari keseharian anak-anak, tidak hanya muncul dalam festival atau kegiatan seremonial. “Yang kami jaga bukan hanya permainannya, tetapi nilai budaya dan pendidikan yang diwariskan di dalamnya,” pungkasnya.