BERITA TERKINI
Gelombang PHK di Industri Teknologi Marak di Tengah Investasi AI, Ini Sejumlah Faktor Pendorongnya

Gelombang PHK di Industri Teknologi Marak di Tengah Investasi AI, Ini Sejumlah Faktor Pendorongnya

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terus terjadi di industri teknologi global. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan besar seperti Meta dan Microsoft memangkas ribuan karyawan, di saat yang sama mereka juga gencar meningkatkan investasi di bidang kecerdasan buatan (AI).

Kondisi ini memunculkan pertanyaan: jika AI disebut belum sepenuhnya menggantikan manusia, mengapa PHK justru semakin marak? Sejumlah pengamat menilai, PHK yang terjadi saat ini lebih mencerminkan fase transisi dan penyesuaian strategi industri, bukan semata-mata akibat otomatisasi langsung oleh AI.

Di Meta, misalnya, perusahaan memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja. Kebijakan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan belanja AI yang mencapai ratusan miliar dollar AS. CEO Meta Mark Zuckerberg menyatakan AI bukan untuk menggantikan manusia, melainkan meningkatkan produktivitas. Ia juga menyebut bahwa ke depan “orang akan menjadi lebih penting, bukan sebaliknya.”

Namun, analis melihat adanya realokasi sumber daya dari tenaga kerja ke infrastruktur AI. Meta, menurut laporan Reuters, meningkatkan belanja modal AI hingga 125–145 miliar dollar AS, sembari memangkas tenaga kerja untuk menjaga efisiensi biaya operasional.

AI washing dan narasi efisiensi

Meski terlihat berkaitan erat, sejumlah ahli menilai AI bukan satu-satunya penyebab gelombang PHK. Chief AI Officer Cognizant, Babak Hodjat, mengatakan AI kerap dijadikan “kambing hitam” dalam restrukturisasi perusahaan. Menurut dia, hal itu dapat terjadi ketika perusahaan sebelumnya merekrut terlalu banyak atau ingin merampingkan organisasi.

Pandangan tersebut sejalan dengan fenomena yang disebut “AI washing”, yakni ketika perusahaan menggunakan narasi AI untuk membungkus keputusan bisnis lama seperti efisiensi biaya. Dalam sebuah survei terhadap manajer perekrutan, sekitar 59 persen perusahaan mengakui mereka menekankan AI dalam pengumuman PHK karena dinilai “terlihat lebih baik di mata pemangku kepentingan”.

Koreksi pascapandemi dan perubahan cara kerja

Konteks waktu terjadinya PHK juga menjadi faktor penting. Selama pandemi, perusahaan teknologi melakukan ekspansi besar-besaran dan merekrut agresif. Ketika pertumbuhan melambat, perusahaan memasuki fase koreksi yang berujung pada PHK, diiringi dengan ekspansi ke AI.

Di sisi lain, AI dinilai lebih banyak mengubah cara pekerjaan dilakukan ketimbang langsung menggantikan pekerjaan. Perusahaan menuntut output yang sama atau lebih tinggi dari tim yang lebih kecil dengan bantuan AI. CEO Google Sundar Pichai menyebut adopsi AI telah meningkatkan produktivitas engineer sekitar 10 persen.

Meta juga mengakui dinamika ini. CFO Meta Susan Li menyatakan perusahaan belum mengetahui “ukuran tim ideal” di era AI karena efisiensi terus berubah. Hal tersebut menunjukkan banyak perusahaan masih bereksperimen untuk mencari kombinasi optimal antara manusia dan mesin.

Restrukturisasi, bukan semata eliminasi pekerjaan

Data industri menggambarkan hubungan PHK dan AI yang lebih kompleks. Sekitar 20 persen PHK di sektor teknologi pada 2026 dikaitkan dengan AI, namun analis menilai perubahan itu lebih berupa reorganisasi ketimbang eliminasi pekerjaan sepenuhnya.

Analis RationalFX, Alan Cohen, menyebut industri saat ini sedang “dibentuk ulang” oleh AI, dengan reorganisasi fundamental menuju alur kerja yang lebih efisien berbasis teknologi. Sementara itu, ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, berpandangan AI dalam jangka panjang berpotensi menciptakan lebih banyak pekerjaan. Ia merujuk pada konsep “Jevons Paradox”, ketika peningkatan efisiensi justru mendorong permintaan dan membuka lapangan kerja baru.

Adaptasi pekerja menjadi kunci

Di tengah perubahan ini, para ahli menilai pekerja yang paling rentan bukan semata-mata mereka yang pekerjaannya bisa diotomatisasi, melainkan mereka yang tidak beradaptasi, terutama dalam memanfaatkan AI. Dampak terbesar AI saat ini dinilai lebih terasa pada peningkatan produktivitas daripada penggantian total tenaga kerja, meski masa transisi disebut tetap akan terasa sulit sebelum manfaatnya meluas.

Pada akhirnya, gelombang PHK di era AI dipandang sebagai hasil kombinasi berbagai faktor: koreksi pasca-ekspansi pandemi, tekanan efisiensi, eksperimen teknologi, hingga perubahan strategi bisnis. AI menjadi bagian penting dari transformasi tersebut, tetapi bukan satu-satunya penyebab PHK.

Untuk membaca arah pergerakan industri, salah satu indikator yang dinilai relevan bukan hanya siapa yang terkena PHK, melainkan siapa yang direkrut berikutnya. Jika perusahaan mulai aktif merekrut talenta dengan keterampilan AI, transformasi dinilai benar-benar berlangsung. Namun jika tidak, narasi AI bisa jadi hanya menjadi label baru untuk dinamika lama dalam dunia bisnis.