BERITA TERKINI
Gen Z Paling Aktif Berinternet, Kesenjangan Literasi Digital Orang Tua Masih Jadi Tantangan

Gen Z Paling Aktif Berinternet, Kesenjangan Literasi Digital Orang Tua Masih Jadi Tantangan

Perkembangan teknologi yang kian cepat menempatkan generasi muda Indonesia sebagai kelompok paling aktif menggunakan internet. Namun, meningkatnya aktivitas digital tersebut dinilai belum diimbangi dengan kesiapan pola asuh digital yang memadai dari orang tua, sehingga anak berisiko menghadapi berbagai ancaman di ruang siber.

Kondisi ini menjadi perhatian ECPAT Indonesia, lembaga perlindungan anak yang berfokus pada isu eksploitasi seksual anak. ECPAT menggandeng Meta untuk meluncurkan program pemberdayaan masyarakat bertajuk Smart Digital Parenting, yang dirancang berbasis komunitas untuk memperkecil kesenjangan literasi digital antara anak dan orang tua, sekaligus mendorong lingkungan digital keluarga yang lebih aman.

Project Officer ECPAT Indonesia, Alfie Fadila, memaparkan bahwa Generasi Z menempati posisi teratas pengguna internet di Indonesia dengan porsi 25,52 persen. Di bawahnya, kelompok Milenial menyusul ketat dengan 25,17 persen. Menurut Alfie, tingginya penetrasi internet tersebut belum sejalan dengan pemahaman masyarakat mengenai keamanan dunia maya.

Ia merujuk data tahun 2025 yang menunjukkan skor indeks literasi digital nasional Indonesia berada pada level 44,53. Angka ini menggambarkan masih adanya ketimpangan kecakapan digital, yang pada praktiknya dapat memicu berbagai ancaman nyata bagi anak di bawah umur.

Risiko yang dihadapi anak di ruang digital beragam, mulai dari peretasan akun pribadi, paparan konten dewasa yang tidak layak, hingga perundungan pada platform gim daring. Dalam level yang lebih serius, anak juga dibayangi risiko eksploitasi seksual secara daring.

Alfie menambahkan, anak-anak kerap enggan melapor kepada orang tua ketika menghadapi masalah atau menjadi korban kejahatan siber. Mereka merasa takut dan menganggap bercerita kepada orang tua sebagai aib. Dalam situasi seperti itu, anak lebih memilih mencurahkan masalah kepada teman sebaya atau saudara kandung, yang pada akhirnya membuat orang tua sering terlambat mengetahui bahaya yang menimpa anak.

Pernyataan tersebut disampaikan Alfie dalam rangkaian acara Cerdas Digital 2026 yang berlangsung di Jakarta Selatan. Momentum itu juga digunakan untuk menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara anak dan orang tua terkait aktivitas digital.

Melalui program Smart Digital Parenting, ECPAT Indonesia dan Meta berencana menyambangi empat wilayah, yakni Denpasar, Yogyakarta, Batam, dan Kupang. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran orang tua terhadap risiko di dunia digital sekaligus membangun pola pengasuhan yang lebih adaptif dan suportif terhadap perkembangan teknologi.

Dalam pelaksanaannya, setiap kota akan menjadi lokasi kegiatan selama dua hari. Orang tua akan dibekali materi praktis, termasuk cara mengidentifikasi dan menghadapi risiko keamanan saat berinternet, pelatihan penggunaan fitur aduan resmi di berbagai platform digital, optimalisasi layanan panggilan darurat pemerintah melalui kanal SAPA 129, serta teknik membangun komunikasi suportif agar anak merasa nyaman melaporkan masalah digital.

Program ini juga menargetkan pembentukan 240 Parent Champion yang akan direkrut dari berbagai unsur masyarakat di empat provinsi sasaran. Komposisinya mencakup guru, komite sekolah, tokoh masyarakat, tokoh agama, kader PKK, hingga kelompok remaja.

Setelah mengikuti pelatihan, para Parent Champion diharapkan melakukan sosialisasi lanjutan untuk menjangkau sedikitnya 1.000 peserta baru di lingkungan masing-masing. Mereka juga didorong aktif di ruang digital dengan memproduksi konten edukatif secara mandiri, dengan target menghasilkan 25 aset digital berupa poster atau video.

Program yang direncanakan berlangsung dari Juni hingga Oktober 2026 ini diharapkan dapat memperluas pemahaman orang tua mengenai pengasuhan digital serta mengurangi kesenjangan literasi digital antara Gen Z dan generasi yang lebih tua, terutama demi meningkatkan keamanan anak di ruang digital.