Di tengah tekanan yang masih membayangi ekosistem startup digital Indonesia—mulai dari pengetatan pendanaan, tuntutan profitabilitas, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang belum sepenuhnya mereda—Grab meluncurkan program akselerator Grab Ventures Velocity (GVV) ke-8. Pada edisi kali ini, GVV mengusung fokus baru, yakni mendorong startup berkelanjutan yang siap melakukan scale-up.
Program tersebut disebut mendapat dukungan pendanaan dari Superbank dan Genesis Alternative Ventures, serta melibatkan kolaborasi dengan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Dengan dukungan itu, GVV diklaim tidak hanya menjadi ruang inkubasi ide, melainkan upaya untuk membantu mengarahkan pertumbuhan startup lokal ke jalur yang lebih tahan banting dan berkelanjutan.
Perubahan fokus ini sejalan dengan kondisi ekosistem startup Indonesia setelah era “banjir modal”. Dalam situasi saat ini, pertumbuhan cepat tidak lagi dianggap cukup. Investor dinilai semakin selektif, sementara keberlanjutan model bisnis menjadi salah satu syarat utama.
Director of Digital and Sustainability Grab Indonesia, Rivana Mezaya, mengatakan banyak startup memiliki gagasan yang kuat, tetapi menghadapi kesulitan untuk bertahan karena keterbatasan akses terhadap jaringan, pasar, maupun strategi ekspansi yang berkelanjutan. “Kami melihat semakin banyak startup yang bagus idenya, tapi kesulitan bertahan karena tidak punya akses ke jaringan, pasar, atau strategi ekspansi yang berkelanjutan,” ujarnya di Jakarta, Jumat (20/6).
Menurut Rivana, GVV berupaya menjembatani kesenjangan tersebut, terutama bagi startup post-seed yang sedang mencari model pertumbuhan yang sehat.
Adapun fokus program tahun ini pada ekonomi sirkular dan energi terbarukan mencerminkan pergeseran arah inovasi digital, dari pola pertumbuhan yang bertumpu pada pembakaran uang (cash burn) menuju pendekatan yang lebih menekankan dampak jangka panjang.
Sejak dimulai pada 2017, GVV tercatat telah membina lebih dari 40 startup. Namun, tantangan yang dihadapi ekosistem dinilai tidak lagi semata soal jumlah startup yang dibina, melainkan bagaimana ekosistem dapat keluar dari tekanan dengan pendekatan baru yang kolaboratif, inklusif, dan berbasis dampak.
Ke depan, sejumlah tantangan masih disebut besar. Daya serap pasar terhadap inovasi hijau dinilai masih rendah, insentif regulasi belum optimal, dan sebagian startup masih mengejar pertumbuhan tanpa model monetisasi yang jelas.
Dalam konteks tersebut, GVV ke-8 diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan baru. Program ini tidak diposisikan sebagai solusi tunggal, melainkan sebagai eksperimen kolaboratif yang dapat membantu menunjukkan arah baru bagi startup digital Indonesia yang tengah mencari pijakan pertumbuhan berikutnya.