Malang — Paparan gadget yang berlebihan pada anak usia dini dinilai mulai menunjukkan dampak nyata terhadap perkembangan sosial dan kemampuan fokus anak di sekolah. Hal itu disampaikan Devita, guru kelas 1 SD Negeri 2 Wonosari, yang mengaku melihat perubahan perilaku pada murid-murid yang tumbuh pada masa pandemi Covid-19.
Menurut Devita, anak-anak yang kini duduk di bangku kelas 1 SD cenderung lebih akrab dengan layar dibanding berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. Kondisi tersebut, kata dia, berpengaruh pada konsentrasi anak di kelas.
Ia menyebut tidak sedikit murid yang kesulitan fokus, mudah tantrum, hingga mengalami kesulitan membedakan realita dengan apa yang mereka lihat di internet. Devita menilai kebiasaan menonton video berdurasi pendek juga dapat memperburuk kemampuan fokus anak.
Devita juga mengungkapkan pernah menemukan kasus keterlambatan bicara atau speech delay yang diduga berkaitan dengan durasi paparan gadget dan televisi yang terlalu lama. Ia menuturkan ada orang tua yang bercerita anaknya menghabiskan lebih dari lima jam per hari untuk gadget dan TV, lalu mengalami speech delay.
Selain itu, ia menemukan anak yang terbiasa mengonsumsi konten berbahasa Inggris di YouTube sehingga mengalami kesulitan menggunakan Bahasa Indonesia ketika mulai sekolah. Menurut Devita, hal tersebut terjadi karena anak kurang berinteraksi langsung dengan orang tua.
Devita juga menyoroti tantangan baru dari media sosial dan gim daring. Ia mengaku prihatin karena sudah ada murid kelas 1 yang memiliki akun TikTok, serta aktif bermain gim online dengan fitur voice chat atau komunikasi suara secara langsung.
Meski demikian, Devita menegaskan persoalan utama bukan pada teknologinya, melainkan pada pengawasan dan pendampingan dari orang tua. Ia menilai orang tua memiliki tanggung jawab terbesar untuk memastikan penggunaan gawai pada anak tetap terkontrol.
Ia mendorong pengurangan waktu layar (screen time) dan mengajak anak kembali aktif bermain di luar rumah. Devita menilai permainan tradisional dapat membantu perkembangan motorik dan sosial anak, sekaligus mendukung kemampuan fokus.
Devita berharap orang tua lebih bijak dalam mengenalkan gadget kepada anak dan tidak menjadikan layar sebagai pengganti kebersamaan keluarga. Menurutnya, hal terpenting bagi anak adalah kebersamaan dengan orang tua.