BERITA TERKINI
IdeaFest 2026 Angkat Tema ReHumanize, Tekankan Nilai Kemanusiaan di Era Teknologi dan AI

IdeaFest 2026 Angkat Tema ReHumanize, Tekankan Nilai Kemanusiaan di Era Teknologi dan AI

IdeaFest 2026 resmi mengusung tema ReHumanize sebagai respons atas pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang kian memengaruhi kehidupan masyarakat. Memasuki tahun ke-15 penyelenggaraan, festival kreatif tahunan ini ingin mengajak publik kembali menempatkan manusia sebagai pusat kreativitas, inovasi, dan pertumbuhan industri kreatif di tengah laju era digital.

Co-Chair IdeaFest, Desy Bachir, mengatakan tema ReHumanize berangkat dari keresahan terhadap masifnya perkembangan teknologi dalam dua tahun terakhir. Ia menilai kemajuan teknologi tidak boleh mengikis nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, intuisi, budaya, dan koneksi antarmanusia.

“Di balik semua inovasi dan perkembangan teknologi, selalu ada manusia yang menciptakan, menggunakan, dan merasakan dampaknya,” ujar Desy dalam konferensi pers IdeaFest 2026 di Jakarta Selatan, Selasa, 13 Mei 2026.

Desy menilai perkembangan AI tidak dapat dihindari karena telah menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif. Namun, ia menegaskan manusia tetap harus menjadi pengarah utama dalam penggunaan teknologi. Menurutnya, teknologi dapat mempercepat berbagai pekerjaan, tetapi tidak mampu menggantikan nilai-nilai dasar manusia.

Ia juga menekankan bahwa empati, intuisi, dan pemahaman budaya merupakan hal yang hanya dimiliki manusia dan menjadi pondasi penting dalam proses kreatif. “Banyak hal yang bisa dilakukan teknologi, tetapi lebih banyak hal lagi yang bisa dilakukan manusia dengan bantuan teknologi,” kata Desy.

Pandangan serupa disampaikan SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, Ovidia Nomia. Ia menyebut perkembangan AI perlu diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. “Teknologi hadir untuk membantu kehidupan manusia. Pada akhirnya manusia tetap menjadi pusat dari semua perkembangan itu,” ujarnya.

Ovidia menilai tantangan terbesar dalam pengembangan AI di Indonesia adalah pemerataan akses dan pemahaman masyarakat terhadap teknologi. Karena itu, pihaknya berupaya menghadirkan teknologi yang lebih mudah diakses publik melalui berbagai inovasi, termasuk pengembangan Sahabat AI yang dirancang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Ia juga menanggapi kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan pekerjaan manusia. Menurut Ovidia, AI hadir untuk mempercepat pekerjaan dan membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari.

Founder dan CEO Haloka Group, Stephanie Regina, menilai digitalisasi membuat pelaku industri kreatif perlu kembali memahami kebutuhan manusia secara lebih mendalam. Ia mengatakan teknologi memang mempermudah proses bisnis dan pengolahan data, tetapi kreativitas tetap membutuhkan sentuhan manusia.

“Teknologi bisa membantu mempercepat proses berpikir dan pencarian solusi, tetapi hubungan antarmanusia tetap menjadi inti dalam membangun brand,” ujar Stephanie.

Stephanie juga menyoroti peran kreativitas dalam membuat pesan penting menjadi lebih menarik dan mudah diterima publik, terutama di tengah derasnya arus informasi di media sosial. Menurutnya, kreativitas dibutuhkan agar pesan yang disampaikan dapat memberikan dampak nyata, bukan sekadar ramai sesaat.

Sementara itu, Co-Founder JKTGO, Ian Eryanto Wongso, mengatakan konten kreatif yang relevan tidak selalu bergantung pada viralitas. Ia menilai algoritma media sosial saat ini justru lebih banyak mendorong konten yang berdampak nyata bagi audiens.

Ian menekankan komunitas sebagai ruang penting untuk membangun koneksi antarmanusia di era digital. Ia mencontohkan komunitas Endometriosis Indonesia yang dinilai mampu menghadirkan dukungan emosional dan pertukaran pengalaman secara langsung antaranggota.

“Konten yang berdampak adalah konten yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh orang lain,” kata Ian.

Founder Creative Prompt, Patrick Effendy, menambahkan pelaku industri kreatif perlu memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, bukan semata mengejar viralitas di media sosial. Ia menilai penggunaan AI di Indonesia masih belum optimal karena kerap terbatas sebagai mesin pencari atau pembuat konten hiburan.

Menurut Patrick, AI telah membawa perubahan besar dalam industri kreatif, terutama pada proses produksi dan pengolahan data. Ia menyebut AI dapat mempercepat berbagai tahapan pekerjaan, mulai dari riset, pembuatan storyboard, hingga pengembangan ide kreatif.

Meski demikian, Patrick menegaskan manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan arah dan keputusan dari hasil olahan teknologi. Ia memperkenalkan konsep human in the loop, yakni pendekatan yang memastikan manusia tetap terlibat dalam setiap proses penggunaan AI.

“AI memang bisa mengolah data lebih cepat, tetapi keputusan akhirnya tetap datang dari manusia,” ujar Patrick.

Patrick juga menyebut kemampuan adaptasi menjadi tantangan utama di era AI. Ia menilai teknologi pada dasarnya tidak langsung menggantikan manusia, melainkan menggantikan mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di sektor kreatif, beberapa profesi mulai terdampak, namun banyak pekerja kreatif tetap dapat bertahan dengan memadukan kemampuan teknis dan kreativitas manusia.

Selain membahas perkembangan teknologi, IdeaFest 2026 juga ingin menjadi ruang publik yang terbuka terhadap berbagai perspektif dan perdebatan mengenai industri kreatif. Desy menilai keberagaman sudut pandang penting untuk membangun ekosistem kreatif yang sehat, sehingga penyelenggara berupaya memastikan peserta merasa aman dan nyaman berdiskusi.

“We are looking forward untuk mendapatkan perspektif yang berbeda, karena kalau semua pemikirannya sama, tidak perlu ada IdeaFest,” ujar Desy.

Dalam penyelenggaraannya, IdeaFest 2026 akan menghadirkan diskusi lintas sektor, mulai dari media, musik, teknologi, branding, komunitas, hingga industri kreatif yang terdampak AI. Penyelenggara juga menegaskan komitmen terhadap representasi perempuan di industri kreatif dan teknologi melalui berbagai sesi tentang perempuan, teknologi, dan pemberdayaan di era digital.

IdeaFest 2026 dijadwalkan berlangsung pada 4–6 September 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Selain di Jakarta, IdeaFest 2026 juga akan kembali hadir di Surabaya serta menghadirkan program komunitas IdeaFriends setiap bulan sebagai ruang bertukar gagasan bagi kreator dan pelaku industri kreatif di Indonesia.