BERITA TERKINI
Internet Memberi Jawaban Cepat, Buku Mengajarkan Cara Bertanya dan Berpikir Mendalam

Internet Memberi Jawaban Cepat, Buku Mengajarkan Cara Bertanya dan Berpikir Mendalam

Perdebatan tentang relevansi buku di tengah banjir informasi digital kembali mengemuka setelah banyak pembaca Tuoi Tre Online menanggapi artikel berjudul “Apa gunanya membaca buku jika semua jawabannya tampaknya tersedia secara online?”. Dari kolom komentar, pembaca berbagi pengalaman yang menegaskan bahwa buku masih memiliki peran yang sulit digantikan oleh internet.

Sejumlah pembaca menilai internet dan buku tidak berada dalam hubungan saling menggantikan sepenuhnya. Salah satu komentar yang banyak disorot datang dari Tran Ha Minh Thu, yang menulis, “Internet dapat memberi kita jawaban, tetapi buku mengajarkan kita cara mengajukan pertanyaan.” Bagi mereka, buku bukan sekadar sumber pengetahuan, melainkan sarana membangun cara berpikir yang lebih dalam.

Penulis buku “Narasi” juga berpandangan bahwa bila membaca sudah menjadi kebiasaan atau hobi, orang akan mempertahankannya dalam jangka panjang, terlepas dari perubahan masyarakat. Di sisi lain, pembaca mengakui teknologi membuat informasi bergerak lebih cepat, namun tetap ada saat ketika membaca buku terasa lebih menyenangkan dibanding menelusuri perangkat elektronik.

Perbedaan pengalaman membaca buku dan mengonsumsi informasi daring berulang kali muncul dalam komentar. Banyak pembaca menyebut sensasi fokus saat membaca buku tidak sama dengan kebiasaan berpindah-pindah aplikasi dan mengikuti berita singkat. Seorang pembaca menulis bahwa di dunia yang bergerak terlalu cepat dan kaya data, buku membantu orang mempertahankan kedalaman pemikiran dan identitas pribadi.

Pembaca Anh Thu Nguyen menilai membaca memberi ruang bagi setiap orang untuk merangkum dan menarik pelajaran secara mandiri. Menurutnya, pengalaman dan perspektif yang berbeda membuat satu kalimat yang sama dapat ditafsirkan dan disimpulkan secara berlainan. Ia juga mengingatkan bahwa bila hanya mengandalkan AI, orang berisiko kehilangan persepsi dan kesimpulan yang unik dari proses berpikir sendiri.

Pandangan serupa disampaikan pembaca lain yang menekankan bahwa buku membantu memahami kehidupan dengan lebih baik. Membaca, menurut mereka, menciptakan rasa fokus dan kedamaian yang lebih besar dibanding menjelajahi media sosial. “Setiap buku menawarkan emosi dan perspektif berbeda yang sulit digantikan oleh internet,” tulis seorang pembaca.

Seorang pembaca dengan nama samaran “Mahasiswa Membaca Koran” mengaku memiliki kebiasaan membaca sejak SMA dan terus mempertahankannya karena buku memberinya pengetahuan yang lebih luas dan mendalam, sekaligus waktu untuk refleksi. Ia menilai pencarian daring memang cepat, namun sering kali hanya mendorong orang membaca sekilas sehingga sulit membangun perenungan yang lebih dalam.

Pembaca Miii juga berbagi pengalaman sempat menjauh dari buku karena media sosial membuatnya tidak lagi menganggap buku sebagai hiburan. Namun, ketika benar-benar membutuhkan pengetahuan, ia selalu kembali ke buku. Sejumlah pembaca menyetujui pengalaman itu dan menilai buku tetap bertahan karena membantu orang belajar lebih lambat, tetapi memahami lebih menyeluruh.

Di kolom komentar, membaca juga kerap dianalogikan sebagai “olahraga untuk otak”. Pembaca Phuong menyebut ia menyukai cara artikel membahas membaca tanpa berlebihan, namun tetap memotivasi. Ia mencontohkan pengalamannya membaca The Alchemist dan merasa setiap buku bisa menawarkan perspektif baru bila dibaca pelan dan direnungkan. Ia menambahkan, hal-hal yang tampak biasa dapat menjadi bermakna setelah dipikirkan lebih dalam, dan pengalaman itu membuatnya ingin meluangkan lebih banyak waktu membaca setiap hari.

Banyak pembaca menilai manfaat membaca tidak selalu tampak seketika, melainkan terkumpul secara perlahan. Pembaca Stella mengaku menghargai kutipan penulis yang menyatakan bahwa membaca tidak membuat seseorang kaya dengan cepat dan tidak memberi hasil instan. Bagi Stella, buku juga menjadi hiburan, melatih kesabaran dan pemahaman bacaan, serta menumbuhkan imajinasi dan kreativitas.

Pembaca Huy Nguyen mengenang kebiasaannya membaca buku dan koran karena kegiatan itu membuatnya dapat membayangkan tokoh-tokoh berdialog dan bertukar ide di kepalanya. Ia menambahkan bahwa ilmu saraf menunjukkan hal menarik: ketika orang membaca cerita dan membayangkan latar, otak mengaktifkan banyak area yang terkait dengan gambar, emosi, dan ingatan.

Pembaca lain dengan alamat email ledu****@gmail.com juga menyamakan membaca dengan olahraga untuk otak. Menurutnya, banyak pengetahuan di internet diperoleh cepat dari orang lain, sementara membaca dan refleksi mandiri memperkuat pemahaman karena merupakan proses menggali dan meneliti sendiri.

Namun, para pembaca juga menyinggung sisi lain budaya buku di era media sosial. Ada yang bercerita pernah melihat buku-buku tebal dipajang di sebuah kafe, tetapi ketika diperiksa lebih dekat ternyata hanya sampul kosong tanpa halaman. Kisah itu dipandang sebagai gambaran bahwa buku kadang dijadikan sekadar properti untuk dipamerkan dan difoto.

Dari sisi kebutuhan akademik, pembaca dari Provinsi Thanh Hoa menilai buku—terutama buku ilmiah, teknis, dan buku teks universitas—masih memegang peran penting. Mereka berpendapat hanya sebagian kecil materi tersedia daring, sehingga mahasiswa kesulitan mengakses buku teks lengkap untuk penelitian. Para pembaca berharap penerbit dapat mencetak lebih banyak buku lengkap agar kesempatan belajar mahasiswa menjadi lebih baik.

Rangkaian komentar tersebut memperlihatkan bahwa di tengah kemudahan internet, banyak pembaca masih melihat buku sebagai ruang untuk fokus, refleksi, dan pendalaman makna—bukan hanya tempat mencari jawaban, tetapi juga cara membentuk pertanyaan dan cara berpikir.