Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri guna meningkatkan daya saing sektor manufaktur nasional di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.
Melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Kemenperin menjalin kolaborasi dengan sejumlah pemangku kepentingan, baik di dalam maupun luar negeri, termasuk Pemerintah Swiss, Kementerian Pariwisata, serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kepala BPSDMI Kemenperin Doddy Rahadi mengatakan, kerja sama tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi aplikasi Industrial-Based Curriculum (IBC) yang digelar pada Jumat (8/5). Pernyataan itu disampaikan Doddy di Jakarta, Selasa (19/5/2025).
Menurut Doddy, penguatan sinergi antara dunia pendidikan dan dunia industri menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing manufaktur nasional. Ia menjelaskan, aplikasi IBC dirancang untuk memudahkan unit pendidikan vokasi dalam perencanaan dan pengelolaan kurikulum berbasis industri, mulai dari penyiapan data, pemantauan proses, hingga dokumentasi hasil Job Occupational Analysis (JoA) Chart secara terintegrasi.
Selain mendukung pihak pendidikan, aplikasi tersebut juga ditujukan untuk memudahkan industri dalam memberikan masukan, melakukan validasi, serta meninjau Job Occupational Analysis dengan lebih fleksibel dan terstruktur. Dengan sistem yang terdigitalisasi, industri diharapkan dapat berkontribusi secara berkelanjutan dalam pengembangan kurikulum pendidikan vokasi.
Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Wulan Aprilianti Permatasari menilai aplikasi IBC dapat menjadi wadah kolaborasi yang memperkuat keterhubungan antara industri dan dunia pendidikan secara berkelanjutan. Melalui sosialisasi ini, ia berharap peserta dapat memahami dan memanfaatkan aplikasi tersebut secara optimal agar penyusunan kurikulum berbasis industri berjalan lebih efektif, efisien, dan berdampak nyata.
Program Manager Swisscontact Daniel Weibel menyoroti kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja sebagai salah satu tantangan utama saat ini. Ia menyebut IBC ditujukan untuk menjawab tantangan tersebut dengan menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri, sehingga lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga siap kerja.
Sejak 2018, Pemerintah Swiss bersama Pemerintah Indonesia melalui proyek Swiss Skills for Competitiveness (SS4C) mengimplementasikan metode Developing a Curriculum (DACUM) yang kemudian berkembang menjadi Industrial-Based Curriculum (IBC). Hingga kini, program tersebut telah menghasilkan 79 Job Occupational Analysis (JoA) Chart dari berbagai sektor dan kementerian, dan jumlahnya terus bertambah.