Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) meluncurkan buku cerita bergambar berjudul Misi Untuk Raka sebagai upaya mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget. Peluncuran buku ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Tanoto Foundation.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengatakan durasi penggunaan gawai atau screen time anak yang berada di kisaran 6–7 jam per hari menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan orang tua. Menurutnya, kondisi tersebut mendorong hadirnya alternatif aktivitas yang dapat mengalihkan perhatian anak dari gadget, salah satunya melalui buku cerita bergambar.
“Hasil survei menunjukkan screen time anak-anak di kisaran 6-7 jam. Ini menjadi alarm buat kita semua,” kata Arifah Fauzi saat memberikan sambutan di kantor Kementerian PPPA, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.
Arifah menilai buku cerita bergambar dapat membantu melatih konsentrasi, kemampuan membaca, serta keterampilan bercerita anak sejak dini. Ia juga menyebut penggunaan gadget secara berlebihan berpotensi membuat kemampuan anak menulis dan mengungkapkan perasaan semakin berkurang.
“Dengan buku cerita ini anak-anak bisa mendengarkan dan membaca. Sekaligus membangun konsentrasi sehingga tidak terus fokus kepada gadget,” ujarnya.
Meski demikian, Arifah menegaskan teknologi digital tetap memiliki manfaat bagi proses belajar dan kreativitas anak. Namun, ia menekankan penggunaan gadget perlu berada di bawah pengawasan orang tua agar tidak berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak.
“Kita tidak bisa terlepas dari teknologi digital. Tetapi anak harus tetap di bawah pengasuhan dan bimbingan orang tua,” ucapnya.
Arifah juga mengimbau orang tua tidak hanya menyediakan buku, tetapi turut membacakan cerita untuk anak. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat memperkuat kedekatan emosional di rumah, yang dinilai mulai berjarak akibat dominasi penggunaan gadget.
“Orang tua bukan hanya memberikan buku, tetapi ikut membacakan agar kedekatan emosional dengan anak kembali terbangun. Membacakan cerita membantu mempererat hubungan keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gadget berlebihan,” kata Arifah.