BERITA TERKINI
Komdigi Dorong Indonesia Kuasai AI lewat Penguatan Talenta dan Kerja Sama Semikonduktor

Komdigi Dorong Indonesia Kuasai AI lewat Penguatan Talenta dan Kerja Sama Semikonduktor

Pemerintah memperkuat langkah untuk masuk dalam persaingan industri kecerdasan artifisial (AI) global dengan mendorong pembangunan fondasi teknologi nasional. Upaya ini ditempuh melalui kerja sama sektor semikonduktor dengan sejumlah negara dan perusahaan teknologi dunia guna mempercepat pengembangan ekosistem AI di dalam negeri.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan Indonesia tidak ingin hanya berperan sebagai konsumen teknologi. Pemerintah, kata dia, mendorong penguatan sumber daya manusia digital agar talenta dalam negeri mampu menguasai dasar-dasar AI sekaligus mengembangkan inovasi sendiri.

“Kita tidak ingin hanya menjadi pasar, tetapi kita ingin talenta digital Indonesia mampu menguasai dasar-dasar teknologi AI dan mengembangkan model AI karya anak bangsa,” ujar Nezar di Jakarta, dikutip Kamis (21/5).

Menurut Nezar, percepatan pengembangan AI menjadi kebutuhan mendesak karena persaingan global di sektor tersebut bergerak sangat cepat. Pemerintah pun mulai membangun kolaborasi strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri AI dunia.

Ia mengungkapkan pemerintah telah menjalin komunikasi dan kerja sama dengan sejumlah pelaku industri semikonduktor internasional, mulai dari kawasan Eropa, Jepang, hingga perusahaan desain chip asal Inggris, Arm Holdings.

“Pemerintah sudah bekerja sama dengan sejumlah industri semikonduktor di Eropa, Jepang, termasuk Arm di Inggris. Dalam kunjungan Presiden ke berbagai negara, isu semikonduktor juga menjadi pembahasan strategis,” ujarnya.

Nezar mengakui Indonesia saat ini masih belum masuk dalam rantai pasok utama industri AI global. Karena itu, pemerintah menilai perlu langkah cepat untuk membangun ekosistem industri yang terintegrasi, termasuk menyiapkan talenta digital yang mampu bersaing di sektor teknologi maju.

Ia menjelaskan perkembangan AI tidak dapat dipisahkan dari industri semikonduktor karena teknologi chip menjadi fondasi utama pengembangan komputasi modern, pusat data, hingga GPU untuk kebutuhan AI. “Kalau kita bicara industri AI, kita bicara bagaimana membangun ekosistem industrinya dan bagaimana menyiapkan talenta digitalnya. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan,” kata Nezar.

Selain penguatan ekosistem dan talenta, Nezar menilai Indonesia memiliki modal besar untuk terlibat lebih jauh dalam industri AI global karena memiliki cadangan sumber daya alam yang dibutuhkan dalam produksi semikonduktor, seperti nikel, kobalt, timah, pasir silika, dan zinc. Namun, ia menyoroti bahwa sebagian besar komoditas tersebut masih diekspor dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah ekonominya belum maksimal.

“Kita punya cukup banyak sumber daya alam yang penting untuk industri semikonduktor. Tetapi sayangnya sebagian besar masih dijual sebagai bahan mentah. Karena itu hilirisasi menjadi sangat penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nezar menyinggung ketatnya kompetisi global pengembangan AI yang saat ini didominasi Amerika Serikat dan Tiongkok. Menurutnya, penguasaan semikonduktor dan kapasitas komputasi akan menjadi faktor utama penentu daya saing sebuah negara di masa depan.

“Chips akan menjadi faktor penentu apakah sebuah bangsa mampu berkompetisi dalam pertarungan teknologi maju seperti artificial intelligence,” tegasnya.