BERITA TERKINI
Komdigi Tekankan Peran Satelit dan Integrasi AI untuk Perkuat Konektivitas Nasional

Komdigi Tekankan Peran Satelit dan Integrasi AI untuk Perkuat Konektivitas Nasional

Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Ismail, menegaskan teknologi satelit kini menjadi kebutuhan bagi Indonesia untuk menjaga konektivitas sekaligus kedaulatan nasional. Pernyataan itu disampaikannya dalam Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2026 yang digelar pada 12–13 Mei 2026 di Jakarta.

Ismail menyoroti kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire. Menurutnya, kerentanan terhadap bencana alam—mulai dari letusan gunung berapi, kebakaran hutan, hingga tsunami—membuat Indonesia membutuhkan infrastruktur komunikasi yang tangguh dan aman.

“Bagi Indonesia, satelit adalah sebuah keniscayaan. Kita adalah negara dengan tantangan geografis yang luar biasa untuk membangun jaringan terrestrial. Satelit hadir bukan hanya untuk konektivitas, melainkan untuk memastikan inklusifitas agar seluruh masyarakat dapat terhubung secepat mungkin,” ujar Ismail.

Dalam kesempatan itu, Ismail juga memaparkan pentingnya integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam industri satelit. Ia menekankan dua aspek, yakni “AI untuk Satelit” dan “Satelit untuk AI”.

Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan operasional satelit, meningkatkan kualitas layanan, serta menekan biaya investasi yang besar pada teknologi satelit, terutama satelit Geostationary Earth Orbit (GEO) di tengah perkembangan teknologi Low Earth Orbit (LEO).

Di sisi lain, ia menilai satelit juga perlu mendukung implementasi AI hingga ke wilayah terpencil. Ismail menyebut pemanfaatan AI dibutuhkan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan di daerah, seperti penyebaran akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga pembangunan ekonomi.

Selain membahas teknologi, Ismail mengingatkan pelaku industri global agar tidak sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar. Ia mendorong investor dan pengembang teknologi internasional untuk berkolaborasi dengan komunitas lokal, khususnya dalam pengembangan ground segment.

“(Investor) datanglah sebagai teman. Bergabung dan perkuat komunitas lokal kami. Inovasi yang digabungkan dengan produksi lokal dan talenta digital dalam negeri sangatlah penting bagi kami,” tegasnya.

Pemerintah juga menyoroti pentingnya regulasi jangka panjang terkait manajemen spektrum frekuensi. Ismail menilai pembahasan spektrum menjadi mendasar mengingat kebutuhan ruang komunikasi diperkirakan semakin padat pada masa mendatang.

Ismail menegaskan komitmen pemerintah dalam transformasi digital diarahkan untuk mengurangi kesenjangan dan menciptakan kesetaraan peluang bagi seluruh masyarakat. Dalam kerangka itu, teknologi satelit diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi digital di berbagai sektor, termasuk agrikultur.

“Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat kesetaraan dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua orang. Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi secara konstruktif melalui inovasi dan tata kelola pemerintah yang bertanggung jawab,” kata Ismail.

Indonesia saat ini disebut sebagai salah satu pasar satelit terbesar di kawasan Asia Pasifik. Kondisi tersebut menjadikan APSAT 2026 dipandang sebagai momentum strategis untuk merumuskan kebijakan ruang angkasa dan konektivitas nasional ke depan.