BERITA TERKINI
Miss AI Muslimah Indonesia Diluncurkan, Anwar: Titik Temu Etika, Teknologi, dan Nilai Spiritual

Miss AI Muslimah Indonesia Diluncurkan, Anwar: Titik Temu Etika, Teknologi, dan Nilai Spiritual

JAKARTA – Peluncuran Kontes AI Indonesia oleh TIMES Indonesia menandai perkembangan teknologi kreatif di bidang kecerdasan buatan (AI) sekaligus membuka ruang diskusi baru tentang etika. Salah satu kategori yang diperkenalkan adalah Miss AI Muslimah Indonesia, kompetisi yang memadukan inovasi teknologi dengan nilai spiritual, kesantunan, dan etika Islam.

Di tengah tren pemanfaatan AI yang kerap menonjolkan aspek visual dan komersial, Miss AI Muslimah Indonesia diposisikan sebagai kontra-narasi. Kontes ini menempatkan adab, moral, dan identitas keislaman sebagai fondasi dalam penciptaan karya berbasis AI.

CEO TIMES Indonesia National Network (TINN), Khoirul Anwar, menyatakan kategori tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab moral media dalam mengawal perkembangan teknologi. “Teknologi tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu membawa nilai dari siapa yang merancang dan menggunakannya. Melalui Miss AI Muslimah Indonesia, kami ingin menunjukkan bahwa AI bisa dikembangkan dengan pendekatan yang bermartabat, beretika, dan selaras dengan nilai spiritual,” kata Anwar.

Anwar menegaskan, Miss AI Muslimah Indonesia tidak dimaksudkan sebagai ajang visualisasi semata. Peserta didorong merancang representasi AI yang mencerminkan kecerdasan, kesantunan, dan akhlak, sekaligus mampu menyampaikan pesan positif di ruang digital.

Pendekatan berbasis nilai ini dinilai relevan di tengah kekhawatiran global mengenai AI yang berpotensi lepas dari kendali etika, memunculkan bias nilai, hingga memicu eksploitasi citra perempuan. Dengan pijakan nilai Islam yang moderat dan inklusif, kontes tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bahwa AI dapat diarahkan untuk memperkuat martabat manusia. “AI harus membantu manusia menjadi lebih manusiawi, bukan sebaliknya,” ujar Anwar.

Peluncuran Miss AI Muslimah Indonesia juga disebut menempatkan Indonesia dalam percakapan global mengenai etika AI. Saat banyak negara masih berfokus pada regulasi teknis dan keamanan data, pendekatan yang melibatkan nilai dan spiritualitas dipandang sebagai pembeda yang jarang diangkat.

Menurut Anwar, Indonesia dengan masyarakat yang religius dan multikultural memiliki modal sosial untuk menawarkan model pengembangan AI yang beretika. “Miss AI Muslimah Indonesia ini kami jadikan contoh konkret bagaimana teknologi modern dapat berdialog dengan tradisi, iman, dan nilai lokal tanpa kehilangan relevansinya,” tuturnya.

Bagi TIMES Indonesia, kontes ini sekaligus menegaskan peran media dalam menjaga arah perkembangan teknologi di ruang publik. Anwar menilai media tidak cukup hanya memberitakan kemajuan AI, tetapi juga perlu memastikan kemajuan tersebut membawa dampak positif bagi peradaban.

Miss AI Muslimah Indonesia dirancang sebagai ruang edukasi, refleksi, dan partisipasi publik. Melalui kompetisi ini, masyarakat diajak memahami bahwa AI bukan semata produk teknologi, melainkan juga hasil dari pilihan nilai dan visi manusia. Anwar berharap ajang ini dapat mendorong lahirnya talenta AI yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran etika dan spiritual. “Sebuah langkah kecil, namun penting, menuju masa depan AI yang lebih beradab dan bermakna,” katanya.