Palo Alto Networks meluncurkan Idira, platform keamanan identitas generasi terbaru berbasis kecerdasan buatan (AI) yang ditujukan untuk kebutuhan perusahaan. Platform ini dirancang untuk melindungi akses baik dari manusia maupun mesin di tengah meningkatnya ancaman siber yang memanfaatkan AI dan akses otonom.
Melalui Idira, Palo Alto Networks menargetkan kemampuan perusahaan untuk menemukan, mengontrol, dan mengelola seluruh identitas digital yang terhubung ke data serta sistem sensitif. Perusahaan menilai perubahan pola akses di lingkungan bisnis kini tidak lagi didominasi oleh pengguna manusia, melainkan juga oleh mesin dan agen AI yang memiliki akses langsung ke berbagai sumber daya perusahaan.
Chief Product and Technology Officer Idira Palo Alto Networks, Peretz Regev, mengatakan identitas kini menjadi titik krusial dalam keamanan perusahaan yang mengadopsi AI. Ia menilai pelaku ancaman semakin sering masuk melalui proses login, sehingga setiap identitas berpotensi menjadi sasaran.
Menurut Regev, Idira dikembangkan untuk melampaui pendekatan privileged access management (PAM) tradisional dengan mengintegrasikan keamanan identitas mesin guna menghadirkan perlindungan identitas agentic secara menyeluruh. Peluncuran Idira juga disebut sebagai langkah Palo Alto Networks dalam memperluas kemampuan PAM bagi pelanggan CyberArk maupun industri secara umum.
Palo Alto Networks turut menyoroti tingkat risiko yang meningkat pada keamanan berbasis identitas. Disebutkan bahwa 9 dari 10 organisasi dilaporkan mengalami pelanggaran keamanan terkait identitas dalam satu tahun terakhir. Selain itu, jumlah identitas mesin dan AI disebut telah melampaui jumlah identitas manusia dengan rasio 109 banding 1.
Perusahaan juga menilai tantangan diperbesar oleh masih tingginya penggunaan standing privilege atau akses permanen pada sistem perusahaan. Untuk itu, Idira mengusung konsep zero standing privilege melalui akses dinamis berbasis kebutuhan (just-in-time access), sehingga akses sensitif hanya diberikan ketika diperlukan.
Idira dibekali teknologi AI untuk memantau identitas, hak akses, dan jalur akses secara real-time agar ancaman dapat dideteksi lebih cepat. Platform ini menawarkan tiga kemampuan utama, yakni menemukan risiko identitas menggunakan AI, mengontrol akses privilege secara dinamis, serta mengotomatisasi tata kelola identitas melalui kebijakan keamanan berbasis AI.
Chief Analyst LoneStar Advisory & Research, Will Townsend, menilai pendekatan keamanan identitas perlu beradaptasi seiring perkembangan AI. Ia mengatakan privileged access management selama dua dekade terakhir identik dengan pengelolaan vault, namun kini kebutuhan enterprise telah berkembang menjadi jaringan kompleks yang terdiri dari identitas manusia, mesin, dan agentic.
Townsend juga menyebut kombinasi teknologi Palo Alto Networks dan CyberArk memberi posisi strategis untuk membangun standar baru dalam keamanan identitas modern.