Perangkat elektronik dengan beragam hiburan di layar kini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Di banyak keluarga, gadget kerap menjadi pilihan utama anak untuk menghabiskan waktu. Namun, kebiasaan ini dinilai dapat berdampak pada perkembangan komunikasi dan kemampuan sosial anak.
Sejumlah temuan penelitian menunjukkan paparan layar yang berlebihan berpotensi menghambat perkembangan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi. Dampaknya, anak dapat kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya, mengalami hambatan dalam menjalin pertemanan, hingga menghadapi kendala saat mengelola masalah di sekolah.
Dalam praktik sehari-hari, sebagian orang tua memberikan gawai sebagai hiburan instan agar anak lebih tenang. Namun, penggunaan perangkat elektronik tanpa pengawasan disebut memiliki risiko bagi pertumbuhan emosional. Studi kolaborasi Florida Atlantic University dan Aarhus University, misalnya, menyimpulkan kebiasaan bermain ponsel sendirian dapat memicu keterlambatan bicara. Studi tersebut juga menyoroti potensi kerentanan anak terhadap gangguan perilaku serta kesulitan mengontrol emosi di masa depan.
Risiko yang kerap dikaitkan dengan penggunaan gadget tanpa pendampingan pada anak usia dini meliputi keterlambatan bahasa akibat minimnya interaksi dua arah, gangguan emosional seperti tantrum atau kesulitan mengatur perasaan, rendahnya keterampilan sosial karena kurang memahami norma sosial dan kerja sama, serta penurunan rasa ingin tahu ketika layar menggantikan dorongan anak untuk mengeksplorasi lingkungan.
Peneliti juga menekankan bahwa dampak negatif dapat muncul bahkan pada penggunaan 10 hingga 30 menit apabila dilakukan tanpa pendampingan. Temuan ini memperkuat pentingnya pembatasan durasi layar agar anak tetap memiliki ruang untuk berkembang melalui pengalaman nyata.
Salah satu penulis studi, Brett Laursen, menyoroti bahwa waktu yang dihabiskan anak sendirian di depan layar dapat mengurangi kesempatan belajar yang seharusnya diperoleh melalui interaksi langsung. Menurutnya, interaksi nyata menjadi kunci untuk membangun keterampilan bahasa dan emosional yang kuat.
Meski gadget dapat menyajikan banyak kata, cerita, dan konten menarik, perangkat tersebut dinilai tidak mampu memberikan respons timbal balik. Anak membutuhkan pengasuh atau teman bermain yang bisa menanggapi pertanyaan dan kebingungan mereka secara langsung. Dalam interaksi tatap muka, anak tidak hanya meniru suara, tetapi juga belajar memahami konteks, ekspresi, serta aturan sosial seperti berbagi dan bernegosiasi.
Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan panduan batas penggunaan layar untuk anak usia 2 hingga 5 tahun, yakni maksimal satu jam per hari. Namun, di lapangan, durasi ini kerap terlampaui dan dapat mencapai lebih dari dua jam sehari. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena konten yang dikonsumsi secara mandiri sering kali bersifat sangat stimulatif dan dinilai kurang mendukung kecerdasan sosial.
Para ahli tidak mendorong pelarangan gadget secara total. Pendekatan yang dianggap lebih bijak adalah pendampingan aktif saat anak menggunakan perangkat elektronik. Orang tua disarankan menonton bersama, memilih konten yang tenang dan edukatif sesuai usia, serta memastikan anak tetap memiliki waktu yang cukup untuk mengobrol dan bermain dengan teman sebaya agar perkembangan mental dan sosialnya tetap seimbang.