Pemblokiran internet yang berlangsung berkepanjangan di Iran dilaporkan mulai menghambat aktivitas perekonomian. Dampak kelumpuhan digital tersebut tidak hanya dirasakan pada skala bisnis yang lebih luas, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat sipil di berbagai wilayah.
Lembaga pemantau netralitas internet global NetBlocks memperkirakan kerugian ekonomi Iran akibat pembatasan akses internet telah melampaui US$ 2,6 miliar atau sekitar Rp46 triliun. Pendiri NetBlocks, Alp Toker, menyatakan pemadaman internet tidak hanya memukul ekonomi digital, tetapi juga merembet ke sektor informal dan bisnis independen yang selama ini menopang ekonomi masyarakat.
“Ada dampak besar, bukan hanya terhadap ekonomi digital Iran tetapi juga lebih luas lagi, termasuk sektor ekonomi informal, perdagangan independen, dan bisnis nonresmi,” kata Toker.
Di dalam negeri, media Iran Donya-e Eqtesad menggambarkan dampak pemadaman internet sebagai “gempa bumi senyap” yang melumpuhkan ekonomi negara tersebut, dan menyebutnya setara dengan dampak serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Surat kabar itu memperkirakan kerugian ekonomi mencapai lebih dari empat kuadriliun rial atau hampir setara US$2,5 miliar (sekitar Rp44 triliun) berdasarkan kurs pasar terbuka.
Pembatasan digital berskala masif itu awalnya diberlakukan menyusul eskalasi ketegangan geopolitik dan situasi keamanan dalam negeri. Namun, kebijakan tersebut disebut berbalik menjadi bumerang bagi perdagangan lokal. Mayoritas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Iran dilaporkan mengalami tekanan berat akibat hilangnya konektivitas.