BERITA TERKINI
“Perfect Blue” dan Bayang-bayang Kehancuran Identitas: Ketika Citra Publik Menelan Diri di Era Internet

“Perfect Blue” dan Bayang-bayang Kehancuran Identitas: Ketika Citra Publik Menelan Diri di Era Internet

Tahun 1997 menjadi penanda sejumlah peristiwa yang dikenang luas: Putri Diana meninggal dunia dalam kecelakaan mobil, domba Dolly diperkenalkan sebagai mamalia hasil kloning pertama, sementara internet saat itu masih kerap dipandang sebagai teknologi masa depan. Pada tahun yang sama, animator sekaligus sutradara Jepang Satoshi Kon merilis sebuah film anime bergenre psychological thriller yang kemudian dikenal berbeda dari kebanyakan karya sejenis pada masanya, berjudul Perfect Blue.

Film ini dinilai terlalu aneh, paranoid, dan gelap untuk standar anime ketika itu. Namun, justru karena kedekatannya dengan realitas kehidupan modern, Perfect Blue kerap dibaca bukan sebagai horor generik, melainkan sebagai gambaran tentang manusia yang perlahan kehilangan dirinya sendiri demi citra publik—terutama di ruang maya.

Pandangan tersebut mengemuka karena jarak waktu antara perilisan film dan perkembangan media sosial masa kini. Perfect Blue tayang hampir tiga dekade lalu, jauh sebelum hadirnya Instagram, TikTok, budaya influencer, fitur siaran langsung, serta berbagai platform yang mengubah rutinitas manusia menjadi konten harian dan dapat dimonetisasi. Kini, 29 tahun setelah penayangan perdananya, film itu disebut semakin relevan, seolah menggambarkan tekanan untuk tampil sempurna di depan kamera dan hidup dalam citra yang terus diawasi.

Salah satu pintu masuk utama film ini adalah tema validasi melalui budaya pop idol. Tokoh protagonisnya, Mima Kirigoe, diceritakan sebagai anggota grup idol CHAM!. Sebagai figur idola, Mima dituntut menjaga image manis, polos, dan murni—serta, yang tak kalah penting, selalu hadir secara emosional bagi para penggemarnya.

Pengamat budaya Jepang Hiroki Azuma pernah menjelaskan bahwa budaya pop idol Jepang banyak dibangun di atas khayalan emosional terhadap sosok atau karakter. Konstruksi ini, dalam pandangan tersebut, menggiring audiens untuk merasa memiliki hubungan personal dengan seseorang yang sebenarnya tidak mereka kenal. Dalam konteks itulah, Perfect Blue menyorot ilusi kedekatan yang dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya, sekaligus cara publik menuntut figur yang mereka idolakan.