Yogyakarta – Perguruan tinggi dinilai masih menghadapi tantangan untuk mengubah hasil riset menjadi produk yang benar-benar dimanfaatkan masyarakat. Selama ini, banyak inovasi yang lahir di kampus disebut kerap berhenti pada tahap prototipe dan publikasi akademik.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Hilirisasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Supriyatiningsih, mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, investor, dan pelaku usaha agar riset tidak sekadar menjadi temuan ilmiah, tetapi juga menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi masih cenderung menempatkan riset sebatas capaian akademik,” ujarnya, Kamis, 21 Mei 2026. Menurutnya, pola pikir tersebut perlu diubah di tengah tuntutan agar pendidikan tinggi mampu berkontribusi bagi kehidupan nyata.
Ia menjelaskan, sebagian besar hasil penelitian di perguruan tinggi umumnya baru mencapai tahap pembuktian awal. Agar dapat berkembang menjadi produk yang bisa digunakan masyarakat, dibutuhkan proses lanjutan seperti inkubasi bisnis, penguatan jejaring, hingga dukungan investasi.
“Untuk itu dibutuhkan semacam spin-off atau rintisan bisnis menuju ke hilirisasi produk,” katanya. Melalui langkah tersebut, produk yang dihasilkan diharapkan dapat berkembang menjadi sesuatu yang terjangkau dan relevan bagi kehidupan masyarakat.
Supriyatiningsih juga menilai dunia usaha memiliki cara pandang yang berbeda karena terbiasa bergerak cepat membaca peluang dan bertahan di tengah perubahan. Perspektif ini disebut penting untuk dipelajari perguruan tinggi agar pengembangan inovasi lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pasar.
“Masukan dari pelaku usaha sangat penting agar pengembangan inovasi kampus tidak berhenti sebagai gagasan ideal,” ujarnya.