JAKARTA — PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) menyatakan terus berperan dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia melalui sejumlah program, salah satunya Program Indofood Riset Nugraha (IRN). Program ini merupakan bantuan riset bagi mahasiswa S1 untuk menggali potensi pengembangan produk pangan fungsional yang berbasis kearifan lokal.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei disebut menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa turut ditentukan oleh semangat dan kualitas generasi muda. Pada tahun ini, IRN memasuki usia dua dekade sebagai bentuk komitmen berkelanjutan dalam mendukung peneliti muda Indonesia yang inovatif, adaptif, dan berkualitas agar mampu menghadirkan dampak bagi masyarakat.
IRN pertama kali diluncurkan pada 2006 sebagai kelanjutan dari Program Bogasari Nugraha yang diprakarsai pada 1998 oleh Bogasari Flour Mills, salah satu kelompok usaha strategis Indofood. Program pendahulunya tersebut dihadirkan sebagai bantuan penelitian untuk mendukung pengembangan produk pangan berbasis gandum dan tepung terigu.
Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana, mengatakan pelaksanaan IRN yang memasuki tahun ke-20 merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendukung semangat generasi peneliti muda Indonesia.
Ia menambahkan, bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional, Indofood berharap IRN dapat terus membangkitkan semangat peneliti muda menjadi scientific-preneur yang inovatif dan siap berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa, khususnya dalam mengembangkan potensi pangan lokal menjadi solusi sekaligus peluang usaha yang berdampak.
Selama dua dekade pelaksanaan, Program Indofood Riset Nugraha tercatat telah menerima lebih dari 8.300 proposal penelitian dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa dari lebih 200 universitas dan perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.
Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, menilai generasi muda, termasuk peneliti muda, merupakan motor penggerak utama untuk menjawab kompleksitas tantangan masa depan Indonesia.
Menurutnya, untuk mewujudkan visi Indonesia Emas diperlukan generasi peneliti yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berani bereksplorasi dan berinovasi, terutama dalam mengoptimalkan potensi serta kearifan lokal guna melahirkan solusi masa depan.
Purwiyatno menjelaskan IRN tidak hanya mendukung riset akademik, tetapi juga mendorong pola pikir kritis, kreatif, berani, dan inovatif, serta memfasilitasi mahasiswa untuk berjejaring dan terus mengembangkan kapasitas agar mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Selain bantuan dana penelitian, pelaksanaan IRN selama 20 tahun juga ditopang dukungan tim pakar lintas disiplin ilmu dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.