BERITA TERKINI
Riset Didanai BPDP Ubah Tandan Kosong Kelapa Sawit Menjadi Kulit Miselium Ramah Lingkungan

Riset Didanai BPDP Ubah Tandan Kosong Kelapa Sawit Menjadi Kulit Miselium Ramah Lingkungan

Jakarta — Riset yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) berhasil mengonversi limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) menjadi produk biomaterial berupa kulit miselium yang ramah lingkungan. Inovasi ini memanfaatkan kemampuan alami jamur dalam mendegradasi lignoselulosa pada limbah padat perkebunan sehingga membentuk struktur material baru dengan ketahanan fisik yang menyerupai karakteristik kulit hewan.

Berdasarkan hasil pengujian yang dipublikasikan melalui laman bpdp.or.id pada Kamis (07/05/2026), penggunaan konsentrasi TKKS di atas 20% dalam campuran substrat dapat meningkatkan risiko kontaminasi serta menghambat laju pertumbuhan jamur. Temuan tersebut menjadi salah satu parameter penting dalam menentukan komposisi media tanam yang stabil untuk produksi biomaterial.

Proses produksi memanfaatkan jamur Ganoderma lucidum dan Pleurotus ostreatus sebagai agen pengurai utama. Keduanya bekerja membentuk jaringan benang halus miselium pada permukaan media tanam berbasis biomassa kelapa sawit hingga menghasilkan lembaran padat.

Dalam penelitian ini, peneliti menyiapkan bahan baku secara teliti sebelum inokulasi dilakukan di laboratorium untuk menjaga sterilitas. Komposisi substrat yang digunakan meliputi TKKS, serbuk kayu, tepung tapioka, pollard gandum, kalsium karbonat (CaCO3), serta air suling.

Campuran bahan tersebut menjalani tahap sterilisasi sebanyak dua kali untuk memastikan lignin pada limbah kelapa sawit terdegradasi dengan baik sebelum jamur ditumbuhkan pada suhu 25 derajat Celsius. Setelah sekitar dua minggu pertumbuhan, miselium membentuk lembaran padat yang dipanen dan masuk ke tahap pengolahan lanjutan melalui perebusan pada suhu 45 derajat Celsius selama 15 menit.

Untuk meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas material, tahap plastisisasi dilakukan menggunakan larutan gliserol dengan konsentrasi 15% hingga 30% agar lembaran kulit miselium tidak mudah pecah saat digunakan. Peneliti juga menguji variasi durasi perendaman gliserol selama dua jam, enam jam, hingga 12 jam untuk mencari kondisi optimal yang menghasilkan tekstur permukaan paling halus dan nilai estetika yang lebih baik.

Sejumlah langkah finishing diterapkan guna memperkuat struktur produk, di antaranya pemberian lapisan kain tencel sebagai penguat internal, pengeringan dalam oven pada suhu 45 derajat Celsius selama enam jam, serta proses hot pressing untuk meratakan tekstur permukaan.

Hasil riset menunjukkan Ganoderma lucidum memiliki performa lebih stabil dalam menghasilkan lapisan miselium yang seragam dibandingkan jenis jamur lain yang disebut cenderung lebih cocok ditumbuhkan pada fase media cair saja. Pengembangan biomaterial berbasis limbah kelapa sawit ini dinilai dapat menjadi solusi dalam menangani penumpukan residu padat di pabrik kelapa sawit sekaligus membuka peluang produk turunan bernilai ekonomi bagi kebutuhan industri kreatif di masa depan.