BERITA TERKINI
Riset Didukung BPDP Kembangkan Deteksi Cepat Kontaminan Berbahaya pada CPO lewat Perubahan Warna

Riset Didukung BPDP Kembangkan Deteksi Cepat Kontaminan Berbahaya pada CPO lewat Perubahan Warna

Jakarta — Peneliti Indonesia mengembangkan perangkat deteksi cepat untuk mengidentifikasi kontaminan berbahaya pada minyak kelapa sawit hasil pemurnian dengan memanfaatkan teknologi Molecularly Imprinted Polymers (MIPs). Inovasi ini dirancang menghasilkan sinyal visual berupa perubahan warna sebagai indikasi keberadaan senyawa target.

Sistem deteksi berbasis MIPs tersebut ditujukan untuk menentukan secara selektif kontaminan 3-Monokloropropana-1,2-diol (3-MCPD) dan glisidol, dua senyawa yang kerap ditemukan pada produk olahan minyak kelapa sawit refinasi. Pengembangan metode ini, sebagaimana disampaikan melalui laman bpdp.or.id pada Kamis (14/05/2026), memanfaatkan interaksi kimiawi yang memicu perubahan warna larutan dari merah muda menjadi biru ketika menyerap senyawa target dalam waktu singkat.

Dalam proses produksi, 3-MCPD dan glisidol disebut umumnya terbentuk secara alami saat tahap deodorisasi, yang melibatkan suhu ekstrem di atas 250 derajat Celcius, kondisi vakum tinggi, serta keberadaan ion klorida pada minyak.

Kontaminan tersebut menjadi perhatian karena risikonya bagi kesehatan. Paparan 3-MCPD secara terus-menerus diketahui berisiko memicu kerusakan organ ginjal dan sistem reproduksi, sedangkan glisidol disebut memiliki sifat karsinogenik yang dapat memicu kanker pada manusia.

Penelitian yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) ini diarahkan untuk mendukung jaminan keamanan pangan nasional, mengingat konsumsi produk turunan kelapa sawit di Indonesia tergolong tinggi.

Secara teknis, perangkat deteksi cepat berbasis polimer ini memiliki beberapa karakteristik. MIPs dapat berfungsi sebagai probe fluoresen yang intensitas cahayanya menurun setelah menyerap kontaminan target secara spesifik. Untuk glisidol, reaksi ditunjukkan melalui perubahan warna larutan dari kehitaman menjadi kekuningan setelah pemanasan selama satu jam pada suhu 80 derajat Celcius.

Selain sinyal visual, sistem ini juga dilengkapi kemampuan memberikan sinyal elektrokimia melalui penggunaan Screen Printing Carbon Electrode (SPCE), sehingga hasil analisis dapat dibuat lebih terukur secara digital.

Material pendeteksi disintesis melalui metode polimerisasi radikal bebas dengan inisiator Azobisisobutyronitrile (AIBN) pada campuran senyawa target, polieugenol, Methacrylic Acid (MAA), serta Ethylene Glycol Dimethacrylate (EGDMA). Karakterisasi material hasil sintesis menggunakan instrumen Fourier Transform Infrared (FTIR) dilaporkan menunjukkan puncak absorpsi khas yang menandakan keberhasilan pengikatan gugus fungsi kimiawi untuk mendeteksi senyawa berbahaya tersebut.

Metode deteksi cepat ini diklaim menghasilkan akurasi setara dengan analisis laboratorium konvensional, sehingga dapat menjadi alternatif dalam pengambilan keputusan terkait pengendalian kualitas produksi. Dengan pendekatan sensor berbasis sistem voltammetri atau potensiometri, pengawasan rutin di industri dinilai dapat dilakukan lebih mudah tanpa selalu bergantung pada pengujian laboratorium yang memerlukan waktu lebih lama dan biaya lebih besar.

Integrasi inovasi tersebut ke dalam rantai produksi Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya diperkirakan dapat memperkuat posisi tawar produk kelapa sawit Indonesia di pasar global yang kian kompetitif.