- Kata Pengantar Buku Jamal D Rahman: Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial: Puisi Esai, Masyarakat, dan Perubahan Sosial
Oleh Denny JA
Seorang ilmuwan sosial terbiasa mengukur dunia dengan angka. Tetapi suatu hari ia menemukan penderitaan yang terlalu dalam untuk dimasukkan ke tabel.
Ada manusia yang ditolak karena keyakinannya. Ada cinta yang patah karena identitas. Ada minoritas yang hidup di bawah bayang-bayang mayoritas.
Ada korban yang dalam statistik hanya menjadi satu angka, padahal di rumahnya seseorang menangis semalaman.
Di situlah ilmu pengetahuan mencapai batasnya. Angka mampu menghitung luka, tetapi tidak selalu mampu membuat kita ikut terluka.
Maka sang ilmuwan mengambil jalan yang tak lazim. Ia meninggalkan tabel sejenak, lalu mengetuk pintu puisi.
Barangkali karena ada kebenaran yang baru menjadi lengkap setelah fakta mempunyai air mata.
-000-
Buku yang berada di tangan pembaca ini, Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial: Puisi Esai, Masyarakat, dan Perubahan Sosial, ditulis Jamal D. Rahman dan diterbitkan Cerah Budaya Internasional pada 2026.
Ia bukan sekadar buku tentang puisi esai. Ia adalah catatan perjalanan intelektual selama empat belas tahun, terdiri atas sebelas esai yang menelusuri puisi esai sebagai karya, gagasan, kontroversi, gerakan kebudayaan, sekaligus gejala perubahan sosial.
Jamal memasuki wilayah yang memang tidak sederhana: hubungan fakta dan fiksi, puisi dan sejarah, estetika dan tanggung jawab sosial, catatan kaki dan imajinasi.
Dari sana muncul pertanyaan yang lebih besar: untuk apakah sastra hadir di tengah masyarakat yang terluka?
Buku ini akhirnya bukan hanya membaca sebuah genre. Ia membaca hubungan antara sastra, masyarakat, dan zaman.
-000-
Mengapa buku ini penting?
Pertama, buku ini mendokumentasikan sebuah eksperimen sastra ketika masih berada dekat dengan sumber kelahirannya.
Puisi esai lahir pada 2012 dari kegelisahan sederhana: dapatkah fakta sosial yang biasanya hidup dalam survei, laporan, berita, dan penelitian dipindahkan ke wilayah puisi tanpa kehilangan pijakan faktualnya?
Jamal menangkap keunikan eksperimen itu. Dalam pembacaannya, puisi esai membawa cara pandang ilmuwan sosial ke dalam sastra. Fakta tidak dibuang setelah imajinasi bekerja. Ia tetap hadir melalui riset dan catatan kaki.
Jamal, misalnya, menelusuri bagaimana lima puisi esai dalam Atas Nama Cinta tidak hanya berkisah tentang tokoh yang dijauhi karena agamanya atau cinta yang dilarang karena etnisnya, tetapi juga menyandarkan setiap adegan pada catatan kaki yang merujuk survei, laporan, dan berita.
Bagi Jamal, di situlah cara pandang ilmuwan sosial tidak menghilang begitu memasuki wilayah puisi.
Karena itu, buku ini menjadi semacam foto panjang sebuah kelahiran intelektual.
Kita melihat gagasan tumbuh, dikritik, diperbaiki, menyebar, bahkan melahirkan pertanyaan yang tak dibayangkan oleh penggagasnya sendiri.
Sebuah gagasan memperoleh kehidupan justru ketika ia tak lagi sepenuhnya dimiliki penciptanya.
-000-
Kedua, buku ini mengembalikan satu pertanyaan tua ke tengah sastra: untuk siapakah puisi ditulis?
Tradisi puisi modern telah menghasilkan puncak-puncak estetika. Tetapi keindahan dapat berubah menjadi menara apabila tangganya hanya diketahui sedikit orang.
Jamal melihat puisi esai sebagai respons terhadap kecenderungan elitis itu. Ia menghidupkan kembali cerita, menggunakan bahasa yang lebih komunikatif, membawa isu sosial ke dalam puisi, dan membuka pintu bagi mereka yang sebelumnya tidak menyebut dirinya penyair.
Buku ini bahkan mencatat bagaimana berbagai profesi, dari guru hingga aktivis dan pekerja media, dapat memperoleh "bahasa" untuk menceritakan pengalaman mereka.
Di sini demokratisasi sastra mendapatkan bentuknya yang paling sederhana: bukan merendahkan langit puisi, tetapi memperbanyak tangga agar lebih banyak orang dapat mendakinya.
-000-
Ketiga, buku ini penting karena tidak memperlakukan puisi esai sebagai benda suci yang harus dibela.
Jamal mengapresiasinya sekaligus mengujinya. Ia mempertanyakan mutu estetik, hubungan fakta dan fiksi, fungsi catatan kaki, intrinsikalitas cerita, bahkan kemungkinan sebuah puisi lebih menarik catatan kakinya daripada tubuh puisinya.
Ia mencatat paradoks puisi esai: ingin populis melalui bahasa sederhana, tetapi sekaligus meminta disiplin intelektual melalui riset.
Justru sikap kritis semacam ini membuat sebuah gagasan bertumbuh. Sebuah genre yang hanya dipuji akan cepat menjadi monumen. Genre yang terus dipersoalkan dapat menjadi laboratorium.
Bahkan Jamal mengakui bahwa perjalanan intelektual empat belas tahun itu tidak selalu rapi. Pengulangan dan perubahan argumentasi dibiarkan sebagai jejak perkembangan pemikirannya.
Bagi saya, di situlah kejujuran buku ini terasa.
-000-
Tentu ada pandangan yang menentang. Bukankah puisi seharusnya membebaskan imajinasi? Mengapa fakta harus menyeret catatan kaki memasuki taman puisi?
Bukankah riset dapat membuat puisi berjalan dengan sepatu besi? Lebih jauh lagi, jika bahasa dibuat terlalu komunikatif dan isu sosial terlalu dominan, tidakkah puisi berisiko berubah menjadi esai yang dipotong-potong menjadi larik?
Jamal sendiri merekam keberatan itu. Ia bahkan menunjukkan bahwa hubungan fakta dan fiksi jauh lebih rumit daripada rumusan awal puisi esai.
Namun justru di situlah jawabannya. Puisi esai tidak meminta semua puisi memakai catatan kaki.
Ia hanya membuka satu kemungkinan tambahan dalam rumah besar sastra. Pembaca yang merasa catatan kaki mengganggu bahkan dapat mengabaikannya.
Tetapi bagi yang ingin mengetahui dunia faktual di balik cerita, catatan kaki menjadi jendela kedua. Dalam sejumlah puisi esai, catatan kaki bukan sekadar penyaji fakta.
Ia melanjutkan cerita dengan register yang berbeda, sehingga tubuh puisi terasa seperti bisikan personal sementara catatan kakinya menjadi suara publik yang mengukuhkan bahwa penderitaan tokoh bukanlah rekaan. Dua suara itu bertemu di kepala pembaca.
Eksperimen tidak perlu menggantikan tradisi untuk menjadi sah. Ia hanya perlu memperluas kemungkinan.
Taman sastra cukup luas untuk bunga liar, anggrek langka, dan tanaman baru yang belum kita ketahui akan tumbuh menjadi apa.
-000-
Bagi saya, membaca buku Jamal seperti membaca kembali sebuah perjalanan pribadi dari jarak tertentu.
Ketika Atas Nama Cinta lahir pada 2012, saya tidak datang dari sekolah kepenyairan. Saya datang membawa kebiasaan seorang ilmuwan sosial: melihat data, membaca survei, mengamati diskriminasi, dan bertanya mengapa sebagian manusia menjadi korban sistem sosial.
Jamal menangkap asal-usul itu dengan tajam. Ia melihat puisi esai sebagai percobaan membawa cara pandang ilmuwan sosial ke wilayah imajinasi.
Namun ada sesuatu yang kemudian saya pelajari. Survei dapat memberi tahu kita berapa persen minoritas mengalami diskriminasi. Puisi dapat menempatkan kita di dalam kamar tokoh itu pada malam ketika ia memutuskan tetap bertahan.
Yang satu memberi pengetahuan. Yang lain memberi pengalaman batin. Saya ingin keduanya bertemu.
Justru karena saya berada di dalam sejarah itu, saya membutuhkan jarak. Sebuah gagasan hanya benar-benar tumbuh ketika ia bersedia dilihat dari mata orang lain, dipertanyakan, diuji, bahkan mungkin dilampaui.
-000-
Dua Buku untuk Memperluas Percakapan
1. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya, Ignas Kleden, 2004
Buku Ignas Kleden berguna untuk membawa diskusi ini ke pertanyaan yang lebih mendasar tentang sastra: apa hubungan teks dengan realitas, bagaimana fakta berubah ketika memasuki karya sastra, dan bagaimana sebuah karya memperoleh makna melalui pembacanya.
Jamal sendiri merujuk buku ini ketika membahas batas fakta dan fiksi.
Dalam konteks puisi esai, pertanyaan itu menjadi sangat penting. Fakta tidak pernah masuk ke sastra dalam keadaan steril.
Begitu disentuh bahasa, perspektif, tokoh, dan imajinasi, ia memperoleh kehidupan kedua.
Jika Kleden bertanya bagaimana teks sastra berhubungan dengan realitas, puisi esai menggeser pertanyaan itu selangkah lagi: bagaimana teks sastra sengaja menempelkan realitas pada dirinya sendiri melalui catatan kaki, dan apa akibatnya bagi cara kita membaca.
Pertanyaan terpenting bukan lagi "apakah ini fakta atau fiksi", melainkan bagaimana keduanya berinteraksi sehingga melahirkan makna yang tidak tersedia jika masing-masing berdiri sendiri.
-000-
2. Perdebatan Sastra Kontekstual, Ariel Heryanto, editor, 1985
Buku ini membawa kita kembali kepada salah satu perdebatan penting dalam kebudayaan Indonesia: apakah sastra terutama harus dinilai sebagai dunia estetik yang otonom, ataukah ia juga perlu dibaca dalam konteks masyarakat yang melahirkannya?
Jamal menempatkan polemik Sastra Kontekstual sebagai salah satu latar penting bagi problem hubungan sastra dan masyarakat.
Pertanyaan itu hidup kembali dalam puisi esai. Ketika kemiskinan, diskriminasi, konflik identitas, sejarah, dan suara kelompok marginal masuk ke puisi, estetika berhadapan dengan tanggung jawab sosial.
Jika perdebatan 1985 masih memisahkan dua kutub itu sebagai pilihan, puisi esai justru menawarkan bentuk yang mencoba menahan keduanya sekaligus di dalam satu teks.
Karya besar mungkin lahir ketika keindahan bahasa membuat penderitaan sosial semakin terasa, sementara kenyataan sosial memberi keindahan sebuah alasan moral untuk hadir.
-000-
Pada akhirnya, saya membaca buku Jamal D. Rahman bukan sebagai pembelaan terhadap puisi esai.
Saya membacanya sebagai percakapan panjang dengan sebuah eksperimen.
Ada pujian di dalamnya. Ada kritik. Ada keraguan. Ada pertanyaan yang setelah empat belas tahun bahkan belum selesai dijawab.
Dan saya menyukai keadaan itu. Sebab gagasan yang sehat bukanlah gagasan yang membuat semua orang berhenti bertanya.
Puisi esai boleh kelak berubah bentuk. Ia boleh dikritik, dilampaui, bahkan mungkin melahirkan bentuk lain yang hari ini belum memiliki nama.
Tetapi satu kerinduan sebaiknya tetap tinggal: membawa puisi kembali menyentuh kehidupan manusia.
Sebab angka dapat mencatat berapa banyak manusia terluka, tetapi puisi membuat kita tak sanggup lagi menganggap luka itu sekadar angka.***
Bangkok, 17 September 2026
REFERENSI
Ignas Kleden. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya. Jakarta: Grafiti, 2004.
Ariel Heryanto (editor). Perdebatan Sastra Kontekstual. Jakarta: CV Rajawali, 1985.
Jamal D. Rahman. Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial: Puisi Esai, Masyarakat, dan Perubahan Sosial (draft buku). Jakarta: Cerah Budaya Internasional, 2026.
-000-
Buku dapat dibaca di
https://drive.google.com/file/d/1dZG9Z5KeWNRFTSxAudqq0KiKrOtluzb5/view?usp=drivesdk