BERITA TERKINI
Renungan Setelah Lima Hari CERAWeek, Pertemuan Dunia Soal Energi, di Amerika Serikat, 23–27 Maret 20...

Renungan Setelah Lima Hari CERAWeek, Pertemuan Dunia Soal Energi, di Amerika Serikat, 23–27 Maret 20...

MENCARI PARTNER BISNIS PERCEPAT KEMANDIRIAN ENERGI INDONESIA

Oleh Denny JA

Di sebuah pagi yang dingin di Houston, saya berdiri di depan sebuah layar raksasa. Di sana, grafik energi dunia bergerak naik turun seperti detak jantung peradaban. Setiap garis bukan sekadar angka. Ia adalah nasib bangsa, harga pangan, bahkan stabilitas politik.

Seorang insinyur tua di sebelah saya berbisik pelan. “Kita tidak sedang bicara energi. Kita sedang bicara masa depan manusia.”

Kalimat itu menancap.

Lima hari saya berada di CERAWeek, menyaksikan para pemimpin dunia berbicara tentang minyak, gas, listrik, dan AI. Namun di balik semua istilah teknis itu, saya merasakan satu kegelisahan yang sama. Dunia sedang berubah lebih cepat dari kemampuan kita beradaptasi.

Dan Indonesia berdiri di persimpangan.

Kita memiliki kekayaan energi luar biasa. Namun kita belum sepenuhnya berdaulat atasnya.

Pertanyaan itu terus menghantui saya hingga pesawat meninggalkan Houston. Apakah kita akan menjadi pemain… atau hanya penonton?

-000-

Lima hari di CERAWeek bukan sekadar menghadiri konferensi. Ia adalah perjalanan intelektual dan emosional. Dari ruang panel hingga percakapan informal di lorong, satu tema muncul berulang kali: energi tidak lagi soal sumber daya. Ia soal ekosistem dan kolaborasi.

Saya melihat bagaimana perusahaan global tidak lagi bekerja sendiri. Mereka membentuk aliansi. Perusahaan energi bekerja dengan perusahaan teknologi. Negara bekerja dengan swasta. Bahkan pesaing pun bisa menjadi mitra.

Dari sanalah lahir kesadaran besar.

Kemandirian energi Indonesia tidak bisa dicapai sendirian. Ia membutuhkan partner bisnis global.

Bukan sekadar investor, tetapi mitra strategis yang membawa teknologi, manajemen, dan akses pasar.

Kita membutuhkan mereka untuk mempercepat apa yang tidak bisa kita lakukan sendiri dalam waktu singkat.

Saya membayangkan Indonesia bukan sebagai pasar, tetapi sebagai pusat gravitasi energi baru. Negara yang tidak hanya mengekspor sumber daya, tetapi juga teknologi dan solusi.

Namun itu hanya mungkin jika kita membuka diri. Bukan dalam arti menyerahkan kedaulatan, tetapi dalam arti memilih mitra yang tepat.

Karena di era ini, kedaulatan bukan berarti sendiri. Kedaulatan berarti mampu memilih siapa yang berjalan bersama kita.

-000-

Ketika esai ini ditulis, harga minyak dunia telah melonjak tajam.

Sebelum konflik geopolitik terbaru, harga minyak berada di kisaran 72 dolar per barel. Kini, ia menyentuh sekitar 90 dolar per barel.

Kenaikan lebih dari 25 persen dalam waktu singkat. Bagi negara eksportir, ini berkah. Namun bagi Indonesia, ini adalah beban.

Kita masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak. Setiap kenaikan harga berarti tekanan pada APBN, subsidi energi yang membengkak, dan inflasi yang menggerus daya beli rakyat.

Harga minyak bukan lagi angka di layar. Ia menjelma menjadi harga beras, ongkos transportasi, bahkan biaya hidup sehari-hari.

Di sinilah paradoks itu terasa pahit. Negara yang kaya sumber daya, namun masih bergantung pada impor. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan.

Program ambisius menuju produksi 1 juta barel minyak per hari di tahun 2029, yang kami canangkan di PHE, menjadi buku putih, dan program prioritas, bukan lagi pilihan strategis. Ia adalah kebutuhan mendesak.

Namun angka itu tidak akan tercapai hanya dengan semangat. Ia membutuhkan investasi besar, teknologi canggih, dan manajemen kelas dunia.

Dan di sinilah pentingnya partner bisnis. Tanpa mereka, target hanya akan menjadi slogan.

Dengan mereka, target bisa menjadi kenyataan. Setidaknya lima primadona ini yang bisa dicarikan partner bisnis internasionalnya.

-000-

Pertama, merger dan akuisisi bukan sekadar strategi bisnis. Ia adalah jalan untuk melompat.

Perusahaan energi dunia seperti TotalEnergies tidak membangun kekuatannya hanya di satu negara. Mereka membeli aset di berbagai belahan dunia, memperluas portofolio, dan menyebar risiko.

Indonesia harus belajar dari ini. Ekspansi tidak boleh hanya di dalam negeri. Kita harus berani masuk ke pasar global. Membeli ladang minyak, gas, dan energi di luar negeri.

Namun ini tidak mudah. Diperlukan partner bisnis yang memahami pasar global, memiliki akses finansial, dan jaringan internasional.

Melalui kemitraan, Indonesia tidak hanya menjadi pembeli. Kita menjadi pemain. Kita belajar. Kita bertumbuh. Kita memperkuat posisi.

Ini bukan sekadar ekspansi ekonomi. Ini adalah ekspansi kedaulatan energi.

-000-

Kedua, revolusi shale di Amerika Serikat mengubah peta energi dunia.

Teknologi hydraulic fracturing dan horizontal drilling membuka cadangan yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis.

Indonesia memiliki potensi minyak non konvensional. Namun teknologi dan pengalaman kita masih terbatas.

Di sinilah partner bisnis menjadi kunci. Kita membutuhkan perusahaan yang telah berhasil di shale revolution. Kita membutuhkan transfer teknologi, bukan hanya investasi.

Karena tanpa teknologi, sumber daya hanya akan tetap terkubur. Kemitraan ini bukan sekadar kontrak. Ia adalah proses belajar bersama.

Dan dari sanalah lahir kemampuan baru.

-000-

Ketiga, laut dalam Indonesia menyimpan rahasia besar. Cadangan energi yang belum tersentuh. Potensi yang belum terpetakan sepenuhnya.

Namun eksplorasi offshore dan laut dalam adalah salah satu kegiatan paling kompleks dan mahal dalam industri energi.

Risikonya tinggi. Teknologinya canggih. Investasinya besar. Tidak ada negara yang bisa melakukannya sendiri.

Kita membutuhkan partner yang memiliki pengalaman global, teknologi mutakhir, dan kemampuan manajemen risiko.

Dengan mereka, laut dalam bukan lagi misteri. Ia menjadi peluang. Dan Indonesia bisa mengubah potensi menjadi produksi nyata.

-000-

Keempat, di tengah semua pembahasan tentang energi masa depan, satu kata terus muncul: hidrogen.

Bukan hidrogen industri biasa. Tetapi natural hydrogen. Energi yang terbentuk secara alami di dalam bumi.

Jika benar potensinya sebesar yang diperkirakan, ia bisa menjadi game changer.

Indonesia memiliki kondisi geologi yang memungkinkan. Namun ini masih frontier. Belum banyak data. Belum banyak eksplorasi.

Di sinilah partner bisnis sangat penting. Kita membutuhkan mereka yang sudah memulai eksplorasi, yang memiliki teknologi deteksi, dan yang berani mengambil risiko.

Karena masa depan tidak menunggu. Ia dimenangkan oleh mereka yang berani lebih dulu.

-000-

Physical AI adalah bab baru dalam industri energi. Ia bukan sekadar analisis data. Ia adalah kemampuan mesin untuk memahami dunia fisik.

Dari reservoir bawah tanah hingga operasi pengeboran.

Dengan AI, ketidakpastian bisa dikurangi. Keputusan bisa dipercepat. Risiko bisa ditekan.

Namun teknologi ini tidak murah. Dan tidak mudah. Indonesia membutuhkan partner teknologi global untuk mengadopsinya.

Kolaborasi antara perusahaan energi dan perusahaan teknologi akan menjadi kunci.

Karena di masa depan, perusahaan energi bukan hanya perusahaan energi. Ia adalah perusahaan teknologi yang mengelola energi.

-000-

Di tengah perjalanan intelektual ini, dua buku kembali teringat.

Buku pertama adalah The New Map karya Daniel Yergin. Buku ini menjelaskan bagaimana peta energi dunia terus berubah. Dari Timur Tengah ke Amerika, dari minyak ke energi baru.

Yergin menunjukkan bahwa energi selalu terkait dengan geopolitik. Negara yang menguasai energi, menguasai masa depan. Dalam konteks Indonesia, buku ini menjadi pengingat bahwa kita tidak bisa pasif. Kita harus aktif membentuk peta kita sendiri.

Buku kedua adalah The Frackers karya Gregory Zuckerman. Buku ini menceritakan bagaimana revolusi shale di Amerika Serikat lahir dari keberanian beberapa individu yang menolak menyerah.

Mereka mengambil risiko, bereksperimen, dan akhirnya mengubah dunia. Pelajaran terpentingnya adalah ini: inovasi tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari keberanian.

-000-

Perjalanan lima hari itu berakhir. Namun renungannya baru dimulai. Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Indonesia tidak kekurangan mimpi.

Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk berubah. Mencari partner. Membuka diri. Belajar lebih cepat.

Kemandirian energi bukan soal memiliki semua sumber sendiri, tetapi menguasai jaringan nilai global: siapa mengendalikan teknologi, data, dan keputusan. Dalam dunia terhubung, kedaulatan sejati lahir dari posisi strategis, bukan isolasi.

Namun, kemitraan global hanyalah angan-angan tanpa pembenahan rumah tangga. Kita harus memangkas belantara regulasi dan ego sektoral, karena investor dunia tidak hanya mencari sumber daya, mereka mencari kepastian hukum dan efisiensi.

Karena di dunia yang bergerak secepat ini, yang lambat bukan sekadar tertinggal. Ia akan dilupakan.

Dan saya percaya, Indonesia tidak ditakdirkan untuk dilupakan.***

(Los Angeles, 30 Maret 2026)

REFERENSI

1. The New Map, Daniel Yergin, Penguin Press, 2020

2. The Frackers, Gregory Zuckerman, Portfolio Penguin, 2013