BERITA TERKINI
Rupiah di Rp17.600 per Dolar AS, Harga Gadget Berpotensi Naik dan Konsumen Beralih ke Opsi Lebih Hemat

Rupiah di Rp17.600 per Dolar AS, Harga Gadget Berpotensi Naik dan Konsumen Beralih ke Opsi Lebih Hemat

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.600 per dolar AS berpotensi menekan daya beli masyarakat terhadap gadget. Kondisi ini berkaitan dengan fenomena imported inflation atau inflasi barang impor, mengingat mayoritas gawai yang beredar di Indonesia masih bergantung pada komponen yang dibeli menggunakan mata uang dolar.

Akibatnya, konsumen diperkirakan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli perangkat elektronik pada pertengahan tahun ini. Di sisi lain, tekanan finansial membuat sebagian masyarakat mengubah prioritas belanja—dari yang sebelumnya rutin mengganti ponsel, menjadi menunda pembelian dan fokus pada kebutuhan yang lebih mendesak.

Dampak pelemahan rupiah terhadap pasar gadget tidak merata, bergantung pada segmen produk yang dibidik konsumen.

Pada segmen entry-level dengan kisaran harga Rp1 juta hingga Rp2 juta, kenaikan biaya produksi dinilai cepat tercermin pada harga jual karena margin keuntungan produsen relatif tipis. Kenaikan sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per unit saja dapat membuat calon pembeli mengurungkan niat. Di kelas ini, konsumen cenderung memilih menunda pembelian dan mempertahankan ponsel lama agar tetap dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja.

Untuk kelas menengah atau mid-range, penyesuaian harga disebut dapat berada pada rentang Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per unit. Merek-merek yang selama ini dikenal terjangkau berisiko menaikkan harga agar tidak merugi. Selain menaikkan harga, terdapat pula opsi lain yang dapat ditempuh produsen untuk menahan harga, yakni melakukan penyesuaian spesifikasi. Dampaknya, konsumen bisa saja menerima kualitas kamera atau kapasitas memori yang lebih rendah meski membayar di kisaran harga yang sama.

Sementara itu, segmen flagship atau ultra-premium dinilai relatif lebih tahan terhadap kenaikan harga. Kelompok konsumen kelas atas disebut tidak terlalu terdampak oleh kenaikan ratusan ribu rupiah pada perangkat premium. Namun, situasi pasar tetap berpotensi berubah dari sisi ketersediaan barang. Stok diperkirakan bisa lebih terbatas apabila distributor membatasi kuota impor, sehingga pembelian di segmen ini menjadi lebih selektif.

Di tengah potensi kenaikan harga perangkat baru, pola konsumsi masyarakat juga diperkirakan bergeser. Salah satu yang menonjol adalah meningkatnya minat pada ponsel bekas atau secondhand. Kenaikan harga gawai baru mendorong konsumen mencari alternatif yang dinilai lebih masuk akal, termasuk ponsel bekas berkualitas yang harganya relatif lebih stabil. Sebagian pembeli menilai ponsel bekas bergaransi lebih menguntungkan ketimbang memaksakan cicilan perangkat baru ketika harga sedang tinggi.

Selain itu, penjualan aksesori seperti casing dan pelindung layar juga disebut mengalami peningkatan. Konsumen memperbarui tampilan ponsel lama untuk mendapatkan sensasi seperti menggunakan perangkat baru tanpa harus membeli unit baru. Cara ini menjadi strategi untuk menahan dorongan belanja di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah berpotensi memengaruhi harga gadget melalui kenaikan biaya komponen impor. Dampaknya tidak hanya terlihat pada harga dan spesifikasi, tetapi juga pada perilaku belanja konsumen yang cenderung beralih ke opsi lebih hemat, seperti ponsel bekas dan aksesori.