BERITA TERKINI
Rupiah Melemah, Axioo Dorong Lokalisasi Infrastruktur AI untuk Tekan Biaya dan Devisa

Rupiah Melemah, Axioo Dorong Lokalisasi Infrastruktur AI untuk Tekan Biaya dan Devisa

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai semakin menekan industri teknologi di Indonesia, terutama dalam pengadaan perangkat keras. Kondisi ini ikut memengaruhi pemenuhan kebutuhan infrastruktur digital nasional.

Sejumlah komponen vital dilaporkan mengalami lonjakan harga. Salah satunya memori yang sempat meroket dari kisaran Rp 400.000 hingga Rp 1,1 juta menjadi Rp 4 juta per unit. Selain itu, beberapa tipe prosesor juga disebut menghilang dari pasaran, sehingga menambah tantangan bagi pelaku industri.

Merespons situasi tersebut, PT Tera Data Indonusa Tbk (Axioo Indonesia) mendorong lokalisasi infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Vice President of Business Development & Strategic Partnership Axioo, Timmy Theopelus, menilai ketergantungan pada layanan komputasi awan (cloud) global berbasis luar negeri berpotensi terus menguras devisa karena transaksi dilakukan dengan mata uang asing.

“Setiap kali kita melakukan prompting atau inference prompting ke cloud luar negeri, itu artinya kita membeli dolar di sana. Kata kunci untuk mengatasi ini adalah efisiensi. Kita harus mulai memproyeksikan pembentukan local AI di Indonesia,” kata Timmy dalam diskusi bertajuk Menjembatani Gap AI untuk Kedaulatan Data Indonesia di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Menurut Timmy, inisiatif lokalisasi memang memerlukan investasi awal dari pelaku industri. Namun, ia memperkirakan pengeluaran tersebut dapat menjadi lebih murah dalam jangka panjang karena efisiensi operasional. Axioo juga menawarkan fleksibilitas lini produk server untuk menyesuaikan kebutuhan berbagai skala bisnis.

“Harganya sangat scalable, mulai dari kepala 20-an juta rupiah hingga yang menyentuh miliaran rupiah, tinggal disesuaikan dengan skala kebutuhan perusahaan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Managing Director Indo Mega Vision, Sugianto Sutikno, menjelaskan bahwa pendekatan investasi infrastruktur ini dirancang bertahap. Perusahaan disebut tidak harus mengeluarkan modal besar sekaligus di awal, melainkan dapat meningkatkan kapasitas server secara berkala seiring pertumbuhan volume data.

“Investasi ini sifatnya scalable. Kita bisa memulai dari kapasitas interkoneksi seribu user, naik ke dua ribu, tiga ribu, dan seterusnya. Dengan fleksibilitas ini, pelaku usaha dapat mengoptimalkan anggaran mereka tanpa mengganggu arus kas secara drastis,” kata Sugianto.

Axioo juga menyampaikan sikap realistis dalam membidik pasar pusat data nasional yang diperkirakan bernilai sekitar USD 500 ribu. Pada tahap awal, perusahaan menargetkan penguasaan 1 hingga 2 persen pangsa pasar sambil berfokus pada edukasi pasar.

“Kami menargetkan dapat mengamankan 1 hingga 2 persen pangsa pasar terlebih dahulu seraya berfokus melakukan edukasi pasar,” ujar Timmy.

Komitmen tersebut diperkuat melalui kemitraan strategis dengan AMD. Axioo menyatakan seluruh operasional internal perusahaan kini telah ditopang penuh oleh lini produk server buatan sendiri.

Langkah hilirisasi ini diharapkan dapat memangkas biaya modal industri lokal sekaligus mempercepat kemandirian kedaulatan data nasional di tengah ketidakpastian makroekonomi global.