Berbagai sekolah di Indonesia mulai memperketat pembatasan penggunaan gadget di lingkungan sekolah. Kebijakan ini didorong kekhawatiran bahwa pemakaian ponsel yang berlebihan selama jam belajar dapat mengganggu fokus siswa, menurunkan interaksi sosial, serta memicu kecanduan media sosial dan gim daring.
Sejumlah sekolah kemudian menerapkan aturan baru agar pelajar lebih berkonsentrasi saat pembelajaran dan kembali terbiasa berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya.
Di Jawa Timur, kebijakan pembatasan penggunaan gadget untuk siswa SMA, SMK, dan SLB resmi diterapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan sejak 2026. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa penggunaan gadget tanpa kontrol berpotensi menimbulkan dampak negatif, mulai dari kecanduan digital, gangguan konsentrasi belajar, perundungan siber, hingga paparan konten yang tidak sesuai usia pelajar.
Aturan tersebut juga disebut sejalan dengan kebijakan nasional terkait perlindungan anak di ruang digital, termasuk Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang perlindungan anak dalam penggunaan sistem elektronik.
Dalam penerapannya, setiap sekolah memiliki mekanisme yang berbeda. Ada sekolah yang meminta siswa menyimpan ponsel di loker selama pelajaran berlangsung. Sebagian lainnya hanya memperbolehkan penggunaan gadget pada mata pelajaran tertentu dengan izin guru.
Selain itu, sejumlah sekolah mulai menerapkan “jam bebas gadget”, terutama saat istirahat dan kegiatan sekolah. Tujuannya agar siswa tidak terus-menerus menatap layar ponsel dan lebih banyak berkomunikasi dengan teman di sekitarnya.
Sejumlah guru mengungkapkan suasana sekolah mulai berubah setelah aturan diterapkan. Siswa yang sebelumnya cenderung diam sambil bermain ponsel disebut mulai lebih aktif berbicara, berdiskusi, dan bermain bersama saat jam istirahat. Dampak yang mulai terlihat antara lain meningkatnya interaksi langsung antarsiswa, dengan pelajar kembali terbiasa mengobrol tatap muka dibanding hanya berkomunikasi lewat chat atau media sosial.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak guru dan orang tua menilai anak-anak menjadi terlalu bergantung pada gadget, termasuk saat berkumpul bersama teman. Sejumlah penelitian tentang penggunaan gadget pada remaja juga menunjukkan pemakaian berlebihan dapat mengurangi komunikasi langsung dan memengaruhi kemampuan sosial siswa, sehingga remaja lebih nyaman berinteraksi di dunia digital ketimbang berbicara secara langsung.
Di sisi lain, pembatasan gadget dinilai membantu siswa lebih fokus saat belajar. Guru menilai siswa lebih memperhatikan penjelasan di kelas karena tidak terganggu notifikasi media sosial, video pendek, atau gim daring. Sebelumnya, sejumlah sekolah mengeluhkan siswa kerap diam-diam membuka media sosial saat pelajaran berlangsung, yang dinilai menurunkan konsentrasi dan berdampak pada hasil akademik.
Sejumlah penelitian internasional juga menunjukkan penggunaan smartphone yang berlebihan di sekolah dapat memengaruhi konsentrasi, kualitas tidur, hingga kesehatan mental remaja.
Meski aturan diperketat, sekolah menegaskan bahwa teknologi tidak dilarang sepenuhnya. Gadget tetap dapat digunakan untuk kebutuhan belajar, seperti mencari materi, mengakses platform pendidikan, dan mengerjakan tugas digital. Sekolah menekankan penggunaan teknologi perlu dilakukan secara lebih sehat dan terkontrol, agar pelajar tetap memahami teknologi digital tanpa kehilangan kemampuan komunikasi sosial dalam kehidupan nyata.
Pengamat pendidikan menilai langkah ini penting mengingat kuatnya pengaruh era digital terhadap generasi muda. Tanpa pengaturan yang tepat, penggunaan gadget dapat memengaruhi pola belajar, kesehatan mental, dan hubungan sosial remaja. Melalui aturan baru tersebut, sekolah berharap pelajar dapat menemukan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan sosial, sekaligus menguatkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun hubungan langsung.