Selama puluhan tahun, Selat Hormuz dikenal sebagai jalur vital perdagangan minyak dunia. Namun, di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan memanasnya konflik yang melibatkan Iran, perhatian kini mulai bergeser ke ancaman lain: potensi gangguan terhadap infrastruktur internet global.
Dalam beberapa pekan terakhir, media-media Iran menyoroti arti penting kabel bawah laut di Teluk Persia dan Selat Hormuz. Sorotan ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik di kawasan tidak lagi semata menyasar jalur energi, tetapi juga dapat berdampak pada sistem komunikasi dan ekonomi digital dunia.
Pada 24 April, Kantor Berita Fars menerbitkan artikel berjudul “Kemacetan Hormuz… di mana internet kawasan bergantung pada seutas benang.” Dalam laporan tersebut, kabel serat optik bawah laut yang melintasi Selat Hormuz disebut sebagai “infrastruktur tersembunyi” yang berpotensi menjadi titik kerentanan strategis.
Berbagai laporan internasional dan data yang dikutip Reuters menyebut sebagian besar lalu lintas data global berjalan melalui kabel bawah laut, bukan satelit atau teknologi nirkabel. Lebih dari 95 persen komunikasi data internasional—bahkan mendekati 99 persen—ditransmisikan lewat lebih dari 500 kabel bawah laut di seluruh dunia.
Masalahnya, sejumlah kabel itu terkonsentrasi di titik geografis sempit, termasuk Laut Merah dan Selat Hormuz. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai “digital chokepoints” atau titik cekik digital, yakni jalur sempit yang bila terganggu dapat berimbas luas pada konektivitas.
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat kawasan Hormuz dinilai semakin sensitif. Selain ancaman terhadap pelayaran minyak, para analis melihat kabel bawah laut sebagai bagian dari arena baru dalam strategi tekanan geopolitik. Peneliti Meredith Primrose Jones, dalam analisisnya, menyatakan konflik AS-Iran telah memperlambat pembangunan kabel baru dan memperbesar kerentanan sistem komunikasi di kawasan.
Kekhawatiran lain juga muncul terkait risiko “kerusakan tidak disengaja” pada kabel-kabel tersebut. Gangguan semacam ini dapat terjadi tanpa adanya sabotase langsung, tetapi tetap berpotensi menimbulkan dampak besar karena ketergantungan tinggi pada jalur kabel yang sama.
Selain kemungkinan gangguan fisik, Iran juga disebut memiliki bentuk tekanan lain yang lebih halus, yakni terkait izin akses perbaikan kabel. Dalam praktik internasional, kapal perbaikan kabel memerlukan izin untuk memasuki wilayah perairan tertentu. Penundaan izin dapat memperpanjang gangguan internet dan komunikasi selama berminggu-minggu.
Direktur riset TeleGeography, Alan Mauldin, mengatakan salah satu tantangan terbesar dalam perbaikan kabel adalah proses mendapatkan izin akses ke lokasi kerusakan. Prosedur ini dapat menjadi faktor penentu seberapa cepat jaringan pulih ketika terjadi gangguan.
Dampak gangguan kabel bawah laut tidak terbatas pada melambatnya akses internet masyarakat. Forum Ekonomi Dunia (WEF) sebelumnya memperingatkan bahwa ekonomi modern sangat bergantung pada arus informasi digital. Gangguan komunikasi dapat memicu masalah pada sistem perbankan, transaksi pasar finansial, perdagangan internasional, hingga layanan cloud global.
Di sektor pertahanan, jaringan kabel bawah laut juga menjadi bagian penting dari komunikasi dan operasi militer modern, termasuk sistem komando, pengoperasian drone, komunikasi satelit, serta koordinasi antar sekutu.
Perdebatan mengenai Selat Hormuz memperlihatkan pergeseran lanskap geopolitik: persaingan tidak lagi hanya menyangkut wilayah dan energi, tetapi juga kendali atas jaringan komunikasi. Ketergantungan dunia pada jalur digital yang sempit menegaskan bahwa globalisasi teknologi turut menghadirkan kerentanan baru yang dapat berdampak luas ketika terjadi gangguan.