Internet ramai membicarakan insiden yang menimpa GrammaCrackers, seorang streamer gim berusia 81 tahun, saat ia sedang melakukan siaran langsung bermain gim dari rumahnya. Dalam beberapa waktu terakhir, ia rutin bermain Minecraft selama 15 hari berturut-turut dengan tujuan menggalang dana untuk biaya pengobatan kanker cucunya yang berusia 17 tahun.
Selain Minecraft, GrammaCrackers juga sempat menyiarkan permainan lain seperti Fortnite, Rocket League, dan Roblox. Upaya penggalangan dana tersebut dipandang sebagai langkah kemanusiaan, terutama di tengah kondisi akses layanan kesehatan yang tidak bersifat universal.
Namun, siaran langsungnya terganggu oleh aksi yang disebut “swatting”, yakni tindakan mengirim aparat kepolisian ke lokasi seseorang berdasarkan laporan palsu. Menurut laporan TheGamer, pada pagi 19 Mei, rumah GrammaCrackers didatangi aparat dalam jumlah besar. Disebutkan sekitar 20 mobil polisi, lima kendaraan SWAT, beberapa drone, serta banyak petugas bersenjata lengkap menggerebek dan menerobos masuk ke rumahnya.
Insiden itu dilaporkan berakhir tanpa hal yang lebih buruk terjadi. GrammaCrackers disebut telah kembali melakukan streaming setelah kejadian tersebut.
Peristiwa ini kembali menyoroti risiko yang dapat dihadapi para kreator konten dan streamer, termasuk tindakan swatting yang tidak hanya membahayakan keselamatan korban, tetapi juga berpotensi menyia-nyiakan sumber daya publik.