Kemudahan akses informasi digital membuat banyak anak muda terbiasa mencari tahu gejala penyakit melalui internet sebelum memutuskan datang ke dokter atau fasilitas kesehatan.
Fenomena tersebut terungkap dalam studi terbaru Health Collaborative Center yang menunjukkan hampir 60 persen anak muda berusia di bawah 40 tahun memilih melakukan self-diagnosis atau swadiagnosis saat mengalami keluhan kesehatan.
Penelitian yang dilakukan pada Maret hingga Mei 2026 itu melibatkan 448 responden urban dari sejumlah kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.
Hasil studi menyebut internet, media sosial, hingga mesin pencari berbasis kecerdasan buatan kini menjadi rujukan awal banyak anak muda sebelum mendatangi layanan kesehatan. “Internet, media sosial, dan mesin pencari digital menjadi sumber informasi kesehatan pertama bagi sebagian responden,” demikian temuan Health Collaborative Center.
Penelitian tersebut juga mencatat sebagian responden memilih mencari informasi kesehatan secara mandiri karena dianggap lebih cepat, praktis, dan mudah diakses dibanding harus datang langsung ke fasilitas kesehatan.
Fenomena swadiagnosis tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah penelitian internasional menunjukkan kebiasaan mencari informasi kesehatan melalui internet meningkat, terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan teknologi digital.
Penelitian dalam Journal of Media and Communication Science pada 2024 menyebut internet memudahkan remaja mencari informasi kesehatan, mulai dari gejala penyakit hingga rekomendasi pengobatan. Namun, penelitian itu juga mengingatkan bahwa informasi kesehatan yang tidak bersumber dari rujukan tepercaya dapat memicu kesalahan memahami kondisi tubuh dan meningkatkan risiko salah penanganan.
Studi lain terhadap mahasiswa di Indonesia turut menemukan perilaku swadiagnosis berkaitan dengan tingginya paparan informasi kesehatan digital dan media sosial.
Meski akses informasi semakin mudah, para ahli mengingatkan diagnosis penyakit tetap perlu dilakukan oleh tenaga medis profesional. Informasi kesehatan dari internet disarankan hanya menjadi referensi awal, bukan pengganti pemeriksaan langsung oleh dokter.