BERITA TERKINI
Studi HCC: 6 dari 10 Anak Muda Urban Indonesia Memilih Swadiagnostik di Internet, Dokter Waspadai Cyberchondria

Studi HCC: 6 dari 10 Anak Muda Urban Indonesia Memilih Swadiagnostik di Internet, Dokter Waspadai Cyberchondria

Fenomena mencari diagnosis penyakit melalui internet kian marak di kalangan anak muda urban Indonesia. Akses cepat ke informasi kesehatan lewat mesin pencari berbasis kecerdasan buatan (AI), media sosial, hingga forum digital membuat sebagian orang merasa dapat mengenali kondisi kesehatan sendiri tanpa perlu berkonsultasi langsung dengan tenaga medis.

Di balik kemudahan itu, para ahli kesehatan mengkhawatirkan meningkatnya cyberchondria, yakni kecemasan berlebih yang muncul akibat terlalu sering mencari informasi medis di internet. Kondisi ini dapat terjadi ketika seseorang semakin yakin mengidap penyakit tertentu setelah membaca berbagai informasi daring, padahal belum tentu benar secara medis.

Studi terbaru Health Collaborative Center (HCC) menemukan enam dari 10 anak muda urban Indonesia lebih memilih melakukan self-diagnose atau swadiagnostik saat mengalami gangguan kesehatan. Penelitian yang berlangsung pada Maret hingga Mei 2026 ini melibatkan 448 responden dari sejumlah kota besar, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Ketua Peneliti sekaligus Pendiri HCC, dr. Ray Wagiu Basrowi, menyebut perilaku tersebut telah menjadi bagian dari budaya kesehatan masyarakat urban modern. Menurutnya, internet kini kerap menjadi rujukan pertama sebelum seseorang memutuskan pergi ke dokter atau fasilitas kesehatan.

“Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi ‘dokter pertama’ bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan,” ujar dr. Ray dalam media briefing penelitian tersebut, Rabu (13/5/2026).

Dr. Ray menilai swadiagnostik bukan hal baru, tetapi perkembangan teknologi digital dan algoritma media sosial membuat pencarian informasi kesehatan berlangsung jauh lebih cepat dan masif. Anak muda dapat mengetik gejala tertentu dan memperoleh berbagai kemungkinan penyakit dalam hitungan detik.

Namun, studi HCC juga mencatat sejumlah risiko. Sebanyak 36 persen responden mengaku langsung melakukan swamedikasi tanpa berkonsultasi dengan dokter. Selain itu, 27 persen responden memilih mengabaikan resep dokter karena merasa informasi dari internet lebih sesuai dengan kondisi mereka.

Menurut dr. Ray, salah satu bahaya terbesar dari swadiagnostik adalah munculnya overdiagnosis dan kecemasan kesehatan berlebihan. “Fenomena mencocok-cocokkan gejala penyakit di media sosial bisa meningkatkan health anxiety,” katanya.

Cyberchondria, lanjutnya, dapat diperparah oleh algoritma media sosial dan mesin pencari yang cenderung menampilkan konten serupa berdasarkan riwayat pencarian pengguna. Dalam wawancara penelitian, ia mencontohkan bagaimana gejala ringan bisa disalahartikan sebagai penyakit serius setelah seseorang membaca informasi di internet, sehingga memicu kecemasan dan mendorong pencarian pembenaran dari lebih banyak sumber digital.

Dr. Ray menegaskan informasi dari mesin pencari berbasis AI seharusnya hanya digunakan sebagai skrining atau deteksi risiko awal, bukan sebagai diagnosis. “Semua yang diperoleh dari mesin pencari berbasis AI seharusnya hanya dipakai sebagai screening atau deteksi risiko awal, bukan sebagai diagnosis,” ujarnya.

Ia menekankan diagnosis medis tetap memerlukan pemeriksaan langsung oleh tenaga kesehatan profesional. Menurutnya, proses diagnosis melibatkan wawancara pasien, observasi fisik, pemeriksaan lanjutan, hingga tes laboratorium bila diperlukan—tahapan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh algoritma digital yang bekerja berdasarkan pengumpulan data dan pola.

Meski begitu, HCC tidak menolak pemanfaatan teknologi digital di bidang kesehatan. Dr. Ray menilai self-screening dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi kesehatannya. “Self-screening lewat mesin pencari berbasis AI justru bisa membantu meningkatkan self-awareness di bidang kesehatan,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat perlu memilah informasi kesehatan yang kredibel dan tidak menjadikan internet sebagai sumber diagnosis utama. HCC juga menilai peningkatan literasi kesehatan digital perlu menjadi agenda penting di Indonesia, mengingat derasnya arus informasi kesehatan di media sosial dapat membuat masyarakat rentan terpapar informasi yang belum tentu benar.

Dr. Ray menambahkan tenaga kesehatan juga perlu memahami perkembangan teknologi digital, termasuk algoritma AI dan media sosial, agar lebih mudah berkomunikasi dengan pasien generasi muda. “Dokter juga harus mulai memahami prompt engineering dan cara kerja algoritma digital agar bisa memahami pola self-screening pasien,” ujarnya.

Seiring perkembangan teknologi AI dan media sosial, tren swadiagnostik diperkirakan akan terus meningkat. Para ahli mengingatkan pentingnya keseimbangan antara memanfaatkan internet sebagai sumber informasi awal dan tetap mengandalkan konsultasi medis profesional, agar terhindar dari kesalahan diagnosis maupun kecemasan berlebihan yang berisiko membahayakan kondisi mental dan fisik.