Fenomena swadiagnostik atau self-diagnosis di kalangan anak muda urban Indonesia kian menonjol dan menjadi perhatian. Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) mencatat hampir 60% responden berusia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis terlebih dahulu saat mengalami keluhan kesehatan, alih-alih langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan.
Penelitian tersebut dilakukan dengan pendekatan mixed-method terhadap 488 responden di sejumlah kota besar, meliputi Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Pengumpulan data berlangsung pada periode Maret hingga Mei 2026.
Ketua Peneliti sekaligus Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, menilai tren ini tidak bisa dipandang sebagai perubahan perilaku digital semata. Ia menyebut swadiagnostik telah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban.
“Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi ‘dokter pertama’ bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan,” ujar Dr. Ray.
Studi HCC yang turut melibatkan research associate Yoli Farradika menemukan bahwa Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis. Setelah itu, responden mengandalkan website kesehatan dan konten digital lainnya.
Adapun keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernafasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis. Fenomena ini dinilai sejalan dengan istilah global cyberchondria, yakni kondisi meningkatnya kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis secara berlebihan di internet.
Sejumlah temuan lain turut menjadi sorotan. Studi ini mencatat 36% responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi ke dokter. Selain itu, 27% responden mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi yang mereka temukan di internet.
Di sisi lain, studi tersebut juga menemukan bahwa 57% hasil swadiagnostik responden dikonfirmasi benar oleh dokter. Temuan ini menunjukkan bahwa ketika hasil pencarian internet beberapa kali terbukti tepat, kepercayaan terhadap proses swadiagnosis dapat meningkat.
Dr. Ray menekankan perlunya upaya bersama untuk merespons tren ini. “Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital, dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab,” katanya.