Sulawesi Selatan menyandang status sebagai daerah yang terbebas dari wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Namun, di lapangan masih ditemukan tantangan keterbatasan infrastruktur digital, terutama di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Pangkep dan Kepulauan Selayar yang masih menghadapi masalah blank spot.
Sekretaris Dinas Kominfo SP Provinsi Sulawesi Selatan, Sultan Rakib, menyampaikan bahwa pada awal 2024 masih tercatat 422 titik buta sinyal di Sulawesi Selatan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi penanda bahwa kebutuhan infrastruktur digital yang memadai di wilayah pedesaan masih mendesak agar akses internet dapat dinikmati secara lebih merata.
“Blank spot ini di Sulsel tahun 2024 awal itu, kita masih 422 titik blank spot yang ada di Sulawesi Selatan. Tandanya apa? Kita masih membutuhkan sebuah infrastruktur yang mumpuni sehingga masyarakat di pedesaan itu bisa juga menikmati yang namanya internet,” ujar Sultan dalam Program Literasi Digital, Selasa, 19 Mei 2026.
Untuk mempercepat pemenuhan akses internet, Sultan mengatakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah menjalin kerja sama strategis dengan BAKTI KomDG (Kementerian Komunikasi dan Digital). Upaya ini diarahkan pada akselerasi penggunaan teknologi satelit VSAT.
Ia menjelaskan, fokus pemenuhan akses internet diprioritaskan pada fasilitas pelayanan publik yang dinilai krusial, mulai dari pos keamanan, polsek, puskesmas pembantu, hingga sekolah-sekolah di wilayah terpencil. “Paling tidak di wilayah-wilayah seperti pedesaan yang ada keamanannya, polrestabesnya, polseknya, puskesmas dan sekolah-sekolah itu sudah bisa menikmati akses internet berupa visa peris small satellite dari BAKTI,” kata Sultan.
Selain pembangunan infrastruktur, Sultan juga menekankan pentingnya penguatan literasi digital yang tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis. Ia menilai generasi muda dari tingkat SD hingga perguruan tinggi perlu dibekali empat pilar literasi digital, yakni digital skill, digital ethics, digital culture, dan digital safety.
Menurutnya, penanaman empat elemen tersebut sejak dini diharapkan dapat memperkuat daya tahan generasi muda dalam menghadapi disrupsi teknologi. “Insya Allah kedepan generasi kita akan mumpuni dan bisa bisa tahan terhadap gelombang-gelombang transformasi digital saat ini,” ujarnya.